Pemerintah – Provinsi Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta pernah menggagas rencana pembangunan monorel yang menghubungkan kawasan Ragunan dan Setu Babakan di Jakarta Selatan. Gagasan ini muncul sebagai bagian dari strategi besar untuk meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus mendukung pengembangan kawasan penting di ibu kota. Melalui rencana tersebut, Pemprov Jakarta berupaya menghadirkan sistem transportasi publik yang lebih efisien, modern, dan ramah lingkungan.
Seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan kendaraan pribadi, Jakarta menghadapi tantangan kemacetan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, Pemprov Jakarta memandang pengembangan moda transportasi berbasis rel sebagai solusi jangka panjang. Monorel Ragunan–Setu Babakan menjadi salah satu opsi strategis karena mampu menghubungkan kawasan wisata, budaya, dan permukiman tanpa membutuhkan ruang jalan yang luas.
Peran Rano Karno dalam Gagasan Monorel Jakarta Selatan
Pada masa perencanaan awal, Rano Karno, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, menyampaikan secara terbuka visi pembangunan monorel tersebut. Ia menekankan bahwa monorel dapat membantu mengurangi kemacetan sekaligus menekan emisi kendaraan bermotor. Melalui pendekatan ini, Jakarta dapat bergerak menuju kota yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, Rano Karno melihat monorel sebagai sarana untuk memperbaiki kualitas hidup warga. Dengan transportasi publik yang andal, masyarakat dapat berpindah tempat dengan lebih cepat dan nyaman. Pandangan ini selaras dengan kebutuhan Jakarta akan sistem mobilitas yang terintegrasi dan berorientasi pada kepentingan publik.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membangun Monorel DKI Jakarta rute Ragunan-Setu Babakan untuk mengatasi kemacetan dan meningkatkan aksesibilitas.
Mengurai Kemacetan dan Memperluas Aksesibilitas Kawasan
Rencana Monorel Ragunan–Setu Babakan berfokus pada pengurangan kepadatan lalu lintas di sekitar dua kawasan tersebut. Kawasan Taman Margasatwa Ragunan sering mengalami lonjakan kendaraan, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Monorel dapat mengalihkan sebagian pergerakan pengunjung dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
Lebih lanjut, akses menuju Setu Babakan sering menghadapi kendala jalan sempit dan kepadatan pengunjung. Kehadiran monorel memungkinkan distribusi arus pengunjung yang lebih merata. Dengan demikian, masyarakat dapat menikmati kawasan budaya tanpa menghadapi kemacetan berlebihan.
Selain aspek lalu lintas, monorel juga mendukung upaya pelestarian lingkungan. Penggunaan transportasi berbasis rel dapat menekan polusi udara dan kebisingan. Oleh karena itu, proyek ini sejalan dengan visi Jakarta sebagai kota yang lebih hijau dan sehat.
Dukungan Infrastruktur terhadap Pelestarian Budaya Betawi
Pemprov Jakarta tidak hanya memandang monorel sebagai sarana transportasi. Pemerintah juga mengaitkan proyek ini dengan pengembangan Setu Babakan sebagai pusat budaya Betawi. Kawasan ini berfungsi sebagai ruang ekspresi dan pelestarian budaya masyarakat asli Jakarta. Dengan akses transportasi yang mudah, Setu Babakan dapat menjangkau lebih banyak pengunjung dari berbagai wilayah.
Rano Karno juga mendorong penguatan fungsi edukasi di Setu Babakan. Ia mengusulkan pembentukan lembaga kajian tentang Jakarta yang berperan seperti institut budaya. Lembaga ini dapat bersinergi dengan sanggar-sanggar seni yang sudah ada. Melalui pendekatan tersebut, Setu Babakan tidak hanya berperan sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran budaya Betawi.
Integrasi monorel dengan kawasan budaya menciptakan hubungan saling menguatkan. Infrastruktur transportasi memperluas jangkauan pengunjung, sementara aktivitas budaya meningkatkan daya tarik kawasan. Sinergi ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus menjaga identitas budaya Jakarta.
Revitalisasi Ragunan dalam Kerangka Pengembangan Pariwisata
Sejalan dengan rencana monorel, Pemprov Jakarta bersama pengelola Ragunan menyusun masterplan revitalisasi yang ditargetkan rampung pada 2027. Program revitalisasi ini bertujuan meningkatkan kualitas fasilitas, pelayanan, dan pengalaman pengunjung. Monorel dapat berperan sebagai pendukung utama dalam strategi tersebut.
Dengan akses yang lebih mudah, Ragunan dapat menarik lebih banyak pengunjung tanpa membebani lalu lintas sekitar. Peningkatan jumlah pengunjung berpotensi menambah pendapatan kawasan, yang kemudian dapat mendukung konservasi satwa dan pengembangan fasilitas edukasi. Oleh karena itu, monorel dan revitalisasi Ragunan saling melengkapi dalam satu kerangka pembangunan terpadu.
Kesimpulan
Rencana pembangunan Monorel Ragunan–Setu Babakan mencerminkan upaya Pemprov Jakarta dalam mengintegrasikan transportasi, pariwisata, dan pelestarian budaya. Melalui pendekatan ini, pemerintah berusaha menjawab tantangan kemacetan, meningkatkan aksesibilitas kawasan strategis, serta memperkuat identitas budaya Betawi. Meskipun masih berada pada tahap perencanaan, gagasan ini menunjukkan pentingnya perencanaan infrastruktur yang holistik dalam pembangunan perkotaan berkelanjutan.