Kawasan Jakarta Utara – Kembali menghadapi banjir yang bertahan hingga malam hari. Salah satu titik yang mengalami genangan cukup parah berada di Jalan RE Martadinata, kawasan Ancol. Hingga Senin malam, genangan air masih menutup sebagian besar badan jalan dan menghambat aktivitas lalu lintas.

Pada pukul 20.15 WIB, genangan air terlihat membentang mulai dari sekitar pintu Carnaval Ancol hingga mendekati Stasiun Ancol. Kondisi ini membuat suasana jalan tampak lengang. Banyak pengendara memilih menghindari jalur tersebut karena khawatir kendaraan mengalami kerusakan. Oleh karena itu, arus lalu lintas di kawasan ini mengalami penurunan signifikan di bandingkan hari normal.

Pengendara Mengubah Arah demi Menghindari Risiko

Seiring meningkatnya ketinggian air, sebagian besar pengendara sepeda motor memilih memutar arah. Mereka mempertimbangkan risiko mesin mati dan kerusakan kendaraan akibat air yang cukup dalam. Namun demikian, beberapa pengendara tetap mencoba menerobos genangan dengan kecepatan rendah.

Di sisi lain, hampir tidak ada kendaraan roda empat yang melintas di Jalan RE Martadinata. Hanya sejumlah truk besar yang berani melewati jalur tersebut. Kendaraan dengan bodi tinggi dinilai lebih aman karena memiliki jarak mesin dari permukaan air yang lebih besar. Meski begitu, kondisi ini tetap memerlukan kewaspadaan tinggi dari para pengemudi.

Jakarta

Foto: Banjir di Jalan RE Martadinata, Ancol, Jakarta Utara. (Anggi/detikcom)

Data BPBD Menunjukkan Puluhan Jalan Terendam

Berdasarkan laporan resmi dari BPBD DKI Jakarta, hingga pukul 18.00 WIB tercatat sebanyak 30 ruas jalan di Jakarta masih terendam banjir. Ketinggian genangan bervariasi antara 10 sentimeter hingga 50 sentimeter. Curah hujan tinggi menjadi faktor utama yang memicu meluasnya genangan di berbagai wilayah.

Petugas BPBD terus melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan. Mereka mengerahkan pompa air, mengatur aliran drainase, serta berkoordinasi dengan instansi terkait. Dengan langkah ini, pemerintah daerah berupaya mempercepat surutnya genangan dan meminimalkan dampak terhadap aktivitas masyarakat.

Sebaran Lokasi Banjir di Jakarta Utara dan Sekitarnya

Genangan banjir tidak hanya terjadi di Jalan RE Martadinata. Sejumlah ruas jalan lain di Jakarta Utara juga mengalami kondisi serupa. Wilayah Rawa Badak Utara, Tugu Utara, Pegangsaan Dua, Koja, Penjaringan, Kebon Bawang, hingga Tanjung Priok masuk dalam daftar kawasan terdampak.

Selain itu, beberapa titik di Jakarta Barat seperti Cengkareng Timur, Kedaung Kali Angke, dan Kamal juga tercatat mengalami genangan. Jalan-jalan seperti Daan Mogot dan Lingkar Luar Barat turut masuk dalam daftar lokasi banjir. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak curah hujan tinggi menyebar cukup luas dan tidak terbatas pada satu wilayah administratif saja.

Dampak Banjir terhadap Mobilitas dan Aktivitas Warga

Banjir yang masih bertahan hingga malam hari berdampak langsung pada mobilitas warga. Banyak pekerja memilih menunda perjalanan pulang atau mencari rute alternatif. Aktivitas distribusi barang juga mengalami gangguan, terutama di jalur yang biasa dilalui kendaraan logistik.

Selain itu, warga yang tinggal di sekitar lokasi genangan harus meningkatkan kewaspadaan. Mereka perlu mengamankan kendaraan, peralatan elektronik, dan barang berharga lainnya. Dalam situasi seperti ini, koordinasi antara warga dan aparat setempat menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian lebih besar.

Upaya Penanganan dan Imbauan kepada Masyarakat

BPBD DKI Jakarta bersama dinas terkait terus memperkuat upaya penanganan banjir. Petugas memprioritaskan penyedotan air di ruas jalan utama agar lalu lintas dapat kembali normal. Selain itu, mereka juga memantau potensi kenaikan genangan akibat hujan susulan.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati dan menghindari ruas jalan yang tergenang. Pengendara disarankan untuk mengikuti informasi resmi dan memanfaatkan aplikasi pemantau lalu lintas. Dengan langkah ini, warga dapat merencanakan perjalanan secara lebih aman dan efisien.

Tantangan Banjir Perkotaan dan Harapan ke Depan

Peristiwa banjir yang kembali melanda Jakarta Utara menunjukkan tantangan besar dalam pengelolaan drainase perkotaan. Curah hujan tinggi, kondisi saluran air, dan tata ruang kota saling memengaruhi tingkat kerawanan banjir. Oleh karena itu, penanganan jangka panjang memerlukan perencanaan yang lebih terintegrasi.

Ke depan, pemerintah diharapkan dapat memperkuat sistem pengendalian banjir melalui normalisasi saluran, peningkatan kapasitas pompa, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Dengan langkah tersebut, Jakarta dapat mengurangi risiko banjir berulang dan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih tangguh terhadap cuaca ekstrem.