Emas – Hujan deras yang mengguyur Jakarta tidak menghentikan aktivitas ekonomi skala kecil yang terus berjalan di sudut-sudut kota. Di tengah suasana mendung, aktivitas jual beli emas tetap berlangsung, meskipun dengan intensitas yang berbeda. Fenomena ini mencerminkan respons masyarakat terhadap fluktuasi harga emas yang terus bergerak naik.
Indah, seorang perempuan paruh baya yang bekerja sebagai penadah emas di Jakarta Selatan, menjalani rutinitasnya dengan tenang. Ia menghitung lembaran rupiah satu per satu, lalu melipatnya dan menyimpannya ke dalam laci meja. Meski hujan turun tanpa jeda, Indah tetap menyambut setiap pertanyaan dengan senyum hangat. Sikap ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi informal tetap bertahan di tengah kondisi cuaca dan tekanan ekonomi.
Aktivitas Penjualan Emas Skala Kecil di Perkotaan
Ketika ditanya mengenai jumlah penjual yang datang, Indah menjelaskan bahwa hanya satu atau dua orang yang menjual emas setiap hari. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar penjual membawa perhiasan seperti anting, cincin nikah, atau gelang yang sudah tidak utuh. Meskipun jumlahnya terbatas, Indah tetap menerima emas tersebut tanpa banyak pertimbangan.
Selain itu, etalase kaca di lapaknya hanya menyimpan sedikit perhiasan emas. Kondisi ini tidak mencerminkan tingginya penjualan, melainkan menunjukkan bahwa Indah jarang menambah stok baru. Ia memilih fokus membantu orang-orang yang membutuhkan dana cepat. Melalui pendekatan ini, aktivitas jual beli emas tidak hanya berfungsi sebagai transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai bentuk solidaritas sosial.

Seorang karyawan memegang beberapa perhiasan emas di sebuah toko perhiasan di Banda Aceh pada Rabu 14 Januari 2026. Pada Rabu (14/1/2026), harga emas dan perak terus menguat mencapai level tertinggi.
Emas sebagai Solusi Kebutuhan Mendesak
Bagi sebagian masyarakat, emas berperan sebagai aset darurat. Ketika kebutuhan mendesak muncul, emas menjadi pilihan cepat untuk mendapatkan uang tunai. Indah menyadari peran tersebut dan menerima emas apa adanya. Ia memahami bahwa setiap perhiasan yang dijual membawa cerita dan kebutuhan di baliknya.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kenaikan harga emas tidak selalu mendorong lonjakan penjualan. Sebaliknya, banyak orang justru menahan emas mereka dan hanya menjual ketika kebutuhan benar-benar mendesak. Oleh karena itu, aktivitas penjualan emas berlangsung secara selektif dan terbatas.
Perspektif Generasi Muda terhadap Investasi Emas
Di lokasi berbeda, Via, seorang perempuan berusia 21 tahun, menunjukkan perspektif yang berbeda terhadap emas. Ia duduk di sebuah minimarket sambil menunggu hujan reda. Sambil menekan layar ponsel, Via mengakui bahwa ia memahami kondisi harga emas yang sedang tinggi. Namun, ia tidak menunjukkan keinginan untuk menjual emas yang dimilikinya.
Via menjelaskan bahwa ia membeli emas pada bulan sebelumnya dengan harga sekitar Rp1,7 juta per gram. Informasi harga tersebut ia peroleh langsung dari ponselnya. Pengalaman sebelumnya pernah menjual anting emas yang tersisa satu karena kehilangan pasangan membuatnya memahami nilai jual emas. Meski demikian, pengalaman itu tidak mendorongnya untuk kembali menjual.
Preferensi Menyimpan dan Menambah Kepemilikan Emas
Alih-alih menjual, Via justru berencana menambah kepemilikan emas. Ia menyadari potensi kenaikan nilai emas dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ia memilih menahan aset yang dimiliki dan menunggu kesempatan untuk membeli kembali. Sikap ini mencerminkan perubahan pola pikir generasi muda yang melihat emas sebagai instrumen investasi, bukan sekadar cadangan dana darurat.
Selain itu, Via menilai bahwa menjual emas di tengah harga tinggi belum tentu menguntungkan dalam jangka panjang. Ia lebih memilih strategi akumulasi aset dibandingkan likuidasi cepat. Pandangan ini memperlihatkan perbedaan pendekatan antara generasi muda dan pelaku ekonomi informal yang berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Kontras Pola Perilaku dalam Transaksi Emas
Perbandingan antara Indah dan Via menunjukkan kontras yang menarik. Di satu sisi, Indah menghadapi realitas masyarakat yang menjual emas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, Via merepresentasikan kelompok muda yang memandang emas sebagai sarana investasi masa depan.
Kedua pola ini saling melengkapi dalam ekosistem ekonomi perkotaan. Penadah emas seperti Indah memfasilitasi kebutuhan likuiditas masyarakat. Sementara itu, generasi muda seperti Via berperan dalam menjaga permintaan jangka panjang terhadap emas.
Refleksi Kondisi Sosial dan Ekonomi Perkotaan
Fenomena jual beli emas di Jakarta mencerminkan dinamika sosial dan ekonomi yang kompleks. Kenaikan harga emas tidak secara otomatis meningkatkan volume penjualan. Sebaliknya, masyarakat melakukan penyesuaian berdasarkan kebutuhan, usia, dan tujuan finansial masing-masing.
Melalui interaksi sederhana di tengah hujan, aktivitas ekonomi kecil ini menggambarkan bagaimana emas tetap memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat. Baik sebagai alat bertahan hidup maupun sebagai instrumen investasi, emas terus menjadi simbol stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi.