Kuliner Tradisional Aceh – Kembali menemukan ruang baru di Sumatra Utara. Kali ini, pulut panggang khas Bireuen hadir dan meramaikan pilihan sarapan serta camilan di Kota Binjai. Kehadiran hidangan berbahan dasar beras ketan ini membawa aroma nostalgia dan kehangatan budaya Aceh ke tengah aktivitas masyarakat perkotaan.
Pulut panggang dkenal luas sebagai makanan pagi favorit masyarakat Bireuen. Warga Aceh sering menikmati hidangan ini sambil menyeruput kopi hangat di pagi hari. Kini, kebiasaan tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat Binjai tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke Aceh.
“Kalau di Aceh, pulut panggang biasa dmakan pagi sambil minum kopi,” ujar Ramli, penjual pulut panggang di Binjai, Rabu (28/1/2026). Melalui lapak sederhananya, Ramli ingin menghadirkan kembali suasana sarapan khas Aceh ke tanah perantauan.
Proses Memasak Tradisional yang Menentukan Cita Rasa
Pulut panggang memiliki keunikan tersendiri jika di bandingkan dengan olahan ketan lainnya. Berbeda dari pulut kukus atau pulut rebus, pulut panggang melalui proses pemanggangan langsung di atas bara api. Proses ini menciptakan aroma khas yang kuat sekaligus memperkaya rasa.
Pertama, Ramli mencampur beras ketan dengan santan dan sedikit garam. Setelah itu, ia memasak ketan hingga setengah matang. Selanjutnya, ketan di bungkus menggunakan daun pisang segar, lalu di panggang perlahan di atas bara api. Proses pemanggangan ini membutuhkan ketelatenan agar pulut matang merata tanpa kehilangan kelembutan teksturnya.
Melalui proses tersebut, pulut panggang menghasilkan aroma wangi daun pisang yang berpadu dengan gurih santan. Teksturnya lembut di dalam namun memiliki sensasi hangat di luar, sehingga sekilas mengingatkan pada lemang. Namun, pulut panggang tetap memiliki karakter rasa yang khas dan berbeda.

Foto: Pulut Panggang makanan tradisional Bireuen, Aceh.
Rasa Sederhana dengan Kombinasi yang Kaya
Meski Ramli menyajikan pulut panggang tanpa isian, hidangan ini tetap menghadirkan rasa yang kompleks. Gurih, asin, manis, dan lemak dari santan berpadu secara seimbang dalam setiap gigitan. Karena itu, pulut panggang cocok di nikmati siapa saja, baik sebagai sarapan maupun camilan sore.
Selain itu, pulut panggang juga menawarkan fleksibilitas dalam penyajian. Ramli menyebutkan bahwa banyak pelanggan menikmati pulut panggang dengan berbagai tambahan sesuai selera.
“Pulut panggang bisa dimakan sambil minum air tebu, di tambah susu kental manis, pakai kuah durian, atau dicampur tapai pulut,” jelas Ramli. Dengan berbagai pilihan pendamping tersebut, satu menu sederhana dapat berubah menjadi sajian yang lebih kaya rasa.
Perantauan Ramli dan Awal Usaha di Binjai
Ramli mengaku telah merantau ke Binjai sekitar tiga tahun lalu. Selama masa perantauan tersebut, ia melihat peluang untuk memperkenalkan kuliner khas Aceh yang masih jarang ditemukan di kota ini. Dari situlah, ide membuka lapak pulut panggang muncul.
Usaha pulut panggang yang Ramli jalani baru berjalan sekitar empat bulan. Meski tergolong baru, lapak ini langsung menarik perhatian, karena hingga saat ini belum ada penjual lain yang menawarkan pulut panggang khas Aceh di Binjai. Dengan demikian, lapak Ramli menjadi satu-satunya tempat yang menghadirkan cita rasa pulut panggang Bireuen di kota tersebut.
Ramli tidak hanya menjual makanan, tetapi juga membawa cerita dan tradisi dari kampung halamannya. Melalui setiap potong pulut panggang, ia memperkenalkan kebiasaan sarapan khas Aceh kepada pelanggan dari berbagai latar belakang.
Jam Operasional dan Lokasi yang Mudah Dijangkau
Lapak pulut panggang ini buka setiap hari. Ramli mulai melayani pembeli sejak pukul 07.00 WIB dan tetap membuka lapak hingga paling lama pukul 23.00 WIB. Jam operasional yang panjang ini memberi kesempatan bagi pelanggan untuk menikmati pulut panggang kapan saja, baik pagi, siang, maupun malam.
Dari sisi harga, Ramli menawarkan pulut panggang dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000 untuk tiga potong. Harga ini membuat pulut panggang dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Selain pulut panggang, pelanggan juga dapat mencicipi timpan, kue tradisional khas Aceh lainnya yang berbahan dasar ketan dan pisang. Dengan begitu, lapak ini menghadirkan lebih dari satu pilihan kuliner khas Aceh.
Lokasi lapak berada di Jalan Dr. Wahidin, Binjai Timur, tepat di simpang empat arah Pekan 18 Binjai. Lokasi strategis ini memudahkan pengunjung untuk singgah, baik yang sengaja datang maupun yang sekadar melintas.
Pulut Panggang sebagai Alternatif Sarapan Tradisional
Kehadiran pulut panggang di Binjai memberikan alternatif baru bagi pencinta kuliner tradisional. Di tengah maraknya makanan modern, pulut panggang menghadirkan kesederhanaan rasa yang tetap kaya makna. Selain itu, makanan ini juga menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.
Bagi masyarakat Binjai yang ingin mencoba sarapan khas Aceh atau sekadar mencari camilan berbeda, pulut panggang ini dapat menjadi pilihan yang menarik. Dengan rasa autentik, harga terjangkau, dan sentuhan tradisi, pulut panggang khas Bireuen kini semakin dekat dan mudah dnikmati di Binjai.