Paparan Asap Rokok – Belum lama ini, publik dibuat heboh oleh video seorang pria yang mengemudi sambil merokok, sambil membonceng seorang perempuan dan anak kecil, lalu marah ketika ditegur pengguna jalan lain. Perilaku ini memicu kekhawatiran, terutama mengenai paparan anak terhadap asap rokok. Banyak orang tua tampaknya belum sepenuhnya memahami dampak serius aktivitas merokok di dekat anak.
Padahal, efek asap rokok pada anak tidak hanya bersifat sementara. Paparan jangka panjang dapat memicu gangguan kesehatan yang bertahan hingga dewasa. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan perokok berisiko menghadapi berbagai masalah kesehatan sejak usia dini. Oleh karena itu, kesadaran orang tua dan lingkungan sekitar menjadi faktor penting untuk mencegah risiko ini.
Dampak Asap Rokok terhadap Organ Tubuh Anak
Dr. Darmawan Budi Setyanto SpA(K), dokter spesialis anak konsultan respirologi dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa perokok aktif yang merokok di dekat anak dapat merusak banyak organ tubuh, bukan hanya sistem pernapasan. Ia menekankan bahwa paparan asap rokok dapat memengaruhi sistem saraf pusat, jantung, hingga pencernaan. “Bahayanya bukan hanya pada sistem respiratori. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, organ tubuh anak bisa terkena dampak,” ujarnya.
Selain itu, Dr. Darmawan menambahkan bahwa anak-anak yang berada di lingkungan perokok dapat menjadi second hand smoker, yaitu terpapar langsung asap rokok, atau third hand smoker, yang menghirup residu asap rokok menempel pada dinding, pakaian, tempat duduk, hingga lingkungan rumah. Dengan kata lain, anak bisa tetap terkena dampak meski rokok tidak langsung dibakar di dekatnya.

Pasangan suami istri merokok sambil menggendong bayi ditegur pemotor lain di Jalan Palmerah Barat, Jakarta Barat.
Efek Kumulatif Asap Rokok pada Kesehatan Anak
Dr. Darmawan menegaskan bahwa paparan asap rokok bekerja secara kumulatif. Dengan kata lain, efeknya meningkat seiring waktu jika anak terus-menerus terpapar. Paparan ini dapat menurunkan prestasi anak di sekolah karena mengganggu fungsi otak, memengaruhi kecerdasan, dan memicu gangguan perilaku, termasuk ADHD atau hiperaktivitas.
Lebih jauh lagi, asap rokok merusak sistem pernapasan sehingga anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dr. Darmawan menjelaskan, “Anak-anak yang terpajan asap rokok lebih mudah terkena ISPA. Jika di tambah polusi luar seperti asap kendaraan, efeknya semakin parah karena bersifat kumulatif.”
Selain itu, paparan sejak usia dini meningkatkan risiko penyakit paru kronik dan penyakit jantung ketika anak beranjak dewasa. Oleh karena itu, menghentikan paparan sesegera mungkin menjadi langkah paling efektif. Jika gejala penyakit sudah muncul, terapi medis dapat membantu meminimalkan kerusakan, meski tidak selalu sepenuhnya memulihkan organ yang telah terpengaruh.
Dampak Permanen pada Saraf dan Kecerdasan Anak
Salah satu risiko paling serius dari paparan asap rokok adalah kerusakan pada sistem saraf pusat, yang dapat memengaruhi kecerdasan anak secara permanen. Dr. Darmawan menekankan bahwa anak-anak yang terus-menerus terpapar rokok sejak kecil berpotensi mengalami gangguan perkembangan otak, sehingga sulit mencapai potensi maksimal mereka. “Anak-anak yang terpajan rokok sejak kecil bisa menjadi generasi cemas dan lemas, bukan generasi emas,” ujarnya.
Dengan demikian, orang tua perlu mengambil tindakan tegas untuk melindungi anak dari asap rokok, baik di rumah maupun di kendaraan. Menciptakan lingkungan bebas rokok menjadi langkah preventif utama untuk menjaga kesehatan organ tubuh dan perkembangan kognitif anak.
Kesimpulan
Paparan asap rokok pada anak tidak hanya menimbulkan gangguan sesaat, tetapi juga efek jangka panjang yang serius pada kesehatan fisik dan mental. Anak-anak yang terus-menerus terpapar berisiko mengalami kerusakan organ, gangguan perilaku, dan penurunan kecerdasan. Oleh karena itu, orang tua dan lingkungan sekitar harus menegakkan aturan bebas rokok, menghindari merokok di dekat anak, serta menjaga rumah dan kendaraan tetap aman dari residu asap.
Kesadaran dan tindakan preventif sejak dini dapat mengurangi risiko kesehatan yang kumulatif, sekaligus membantu membentuk generasi anak yang lebih sehat, cerdas, dan produktif. Dengan kata lain, melindungi anak dari asap rokok bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan mendesak bagi masa depan mereka.