Gelombang Panas Ekstrem – yang melanda sejumlah negara di Eropa membawa dampak besar terhadap berbagai sektor, termasuk industri pendingin ruangan. Tingginya suhu yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir membuat masyarakat di berbagai negara beramai-ramai mencari perangkat penyejuk udara, terutama AC portabel yang praktis di pasang tanpa perlu renovasi bangunan.

Situasi tersebut di manfaatkan oleh sejumlah produsen elektronik asal China yang kini mengalami lonjakan pesanan dari pasar Eropa. Permintaan yang meningkat drastis membuat beberapa pabrik bahkan harus beroperasi tanpa henti agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen selama musim panas berlangsung.

Permintaan AC Portabel Meningkat Tajam di Eropa

Salah satu perusahaan yang merasakan lonjakan permintaan adalah Midea. Produsen elektronik asal China tersebut mengungkapkan bahwa fasilitas produksinya di Shunde, Provinsi Guangdong, kini beroperasi selama 24 jam setiap hari untuk mempercepat proses pembuatan AC portabel tipe split.

Produk-produk yang telah selesai di produksi segera di kirim menuju berbagai negara di Eropa menggunakan jalur kereta barang China-Eropa. Langkah tersebut dilakukan agar pengiriman lebih cepat sehingga produk dapat tiba ketika musim panas masih berlangsung.

Permintaan paling tinggi datang dari sejumlah negara yang selama ini di kenal memiliki tingkat penggunaan AC relatif rendah. Midea mencatat penjualan di Perancis, Jerman, Inggris, hingga Spanyol meningkat lebih dari 70 persen di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tidak hanya Midea, produsen elektronik lain seperti Gree dan TCL juga meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan yang terus bertambah dari kawasan Eropa.

Gelombang Panas Ubah Kebiasaan Konsumen Eropa

Cuaca panas ekstrem yang terjadi di berbagai wilayah Eropa menjadi faktor utama di balik meningkatnya penjualan AC portabel. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah negara seperti Jerman, Belgia, dan Belanda mencatat suhu tertinggi untuk bulan Juni.

Di sisi lain, Spanyol dan Perancis juga menghadapi peningkatan jumlah korban akibat suhu ekstrem. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk segera mencari solusi pendingin ruangan yang mudah di gunakan.

Berbeda dengan negara-negara Asia, penggunaan AC di sebagian besar kawasan Eropa masih tergolong rendah. Banyak bangunan tua, terutama di kota-kota bersejarah seperti Paris, memiliki aturan konservasi yang melarang perubahan pada bagian luar bangunan, termasuk pemasangan unit AC konvensional.

Selain terbentur regulasi, biaya pemasangan AC permanen oleh teknisi juga di nilai cukup mahal. Karena alasan tersebut, banyak konsumen lebih memilih AC portabel yang dapat langsung di gunakan tanpa memerlukan instalasi rumit.

Pabrik AC di China memproduksi AC portabel untuk memenuhi lonjakan permintaan dari negara-negara Eropa

Ilustrasi AC. Barang elektronik mudah rusak saat mati listrik

Produk Pendingin Buatan China Semakin Diminati

Popularitas produk pendingin asal China tidak hanya terlihat dari angka penjualan, tetapi juga dari respons masyarakat di media sosial. Banyak pengguna internet membagikan pengalaman mereka menggunakan AC portabel yang di nilai praktis, efisien, dan memiliki harga lebih terjangkau di bandingkan produk sejenis.

Bahkan, seorang pengguna internet di Jerman membuat situs khusus yang berfungsi memantau ketersediaan stok AC PortaSplit buatan Midea. Hal tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap produk tersebut.

Beberapa konsumen mengaku harus berburu unit hingga ke berbagai wilayah di Uni Eropa karena stok cepat habis. Ada pula yang rela menempuh perjalanan ratusan kilometer demi mendapatkan unit terakhir meskipun harganya telah mengalami kenaikan.

Selain AC portabel, berbagai produk pendingin lain asal China juga mulai banyak di gunakan selama musim panas. Mulai dari kipas genggam, topi dengan kipas terintegrasi, hingga selimut pendingin menjadi pilihan masyarakat untuk menghadapi suhu tinggi.

China Perkuat Posisi sebagai Pemasok Global

Dominasi China di industri pendingin udara semakin terlihat dari data perdagangan internasional. Pada tahun 2025, nilai ekspor AC China mencapai sekitar 27,2 miliar dolar Amerika Serikat atau hampir 40 persen dari total ekspor AC dunia.

Angka tersebut menunjukkan bahwa China masih menjadi pemain utama dalam rantai pasok global untuk produk pendingin ruangan. Kapasitas manufaktur yang besar memungkinkan negara tersebut merespons lonjakan permintaan dalam waktu relatif singkat.

Menurut pengamat industri internet Liu Dingding, keberhasilan produk pendingin China menembus pasar Eropa di dukung oleh kemampuan produsen menghadirkan desain yang sesuai dengan kebutuhan konsumen lokal. Produk yang praktis, mudah di pasang, serta memiliki harga kompetitif menjadi nilai tambah yang membuatnya cepat di terima pasar.

Hubungan Dagang China dan Eropa Masih Hadapi Tantangan

Di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap produk pendingin asal China, hubungan perdagangan antara China dan Uni Eropa masih menghadapi sejumlah tantangan. Uni Eropa belakangan mulai menerapkan berbagai kebijakan untuk membatasi masuknya beberapa produk impor dari China.

Profesor Beijing Foreign Studies University, Cui Hongjian, menilai China memiliki sistem industri yang lengkap dan daya saing manufaktur yang kuat sehingga mampu memenuhi lonjakan kebutuhan pasar internasional.

Ia juga berpendapat bahwa kerja sama perdagangan yang terbuka akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Menurutnya, kebijakan yang terlalu membatasi impor justru dapat mengurangi pilihan konsumen dan menghambat terciptanya hubungan dagang yang saling menguntungkan.

Dengan permintaan yang di perkirakan masih tinggi selama musim panas berlangsung, produsen AC asal China di prediksi akan terus meningkatkan kapasitas produksi. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi pola konsumsi masyarakat serta membuka peluang baru dalam perdagangan global.