Infrastruktur – Hari Raya Galungan yang berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026 menghadirkan aktivitas keagamaan dalam jumlah besar di kawasan suci Pura Agung Besakih. Ribuan umat Hindu datang sejak pagi untuk melaksanakan persembahyangan dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Selain itu, seluruh kawasan di penuhi penjor yang berjajar di sepanjang akses utama sehingga menciptakan suasana sakral yang kuat.

Kemudian, rangkaian doa dan persembahyangan berlangsung secara serentak di berbagai pelataran pura. Aktivitas ini memperlihatkan hubungan yang erat antara masyarakat dan nilai spiritual yang terus mereka jaga. Dengan demikian, Besakih tetap berfungsi sebagai pusat kegiatan religius utama di Bali.

Revitalisasi Kawasan oleh Waskita Karya

Pengembangan kawasan suci Pura Agung Besakih berjalan melalui program revitalisasi yang di laksanakan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan selesai pada tahun 2021. Proyek ini memiliki nilai kontrak sekitar Rp201 miliar dan mencakup penataan kawasan secara menyeluruh.

Selanjutnya, proyek ini tidak hanya menambah fasilitas fisik, tetapi juga meningkatkan keteraturan ruang kawasan. Di samping itu, setiap elemen pembangunan mengikuti prinsip tata ruang berbasis budaya Bali sehingga kesucian kawasan tetap terjaga. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan kawasan berjalan seimbang antara kebutuhan modern dan nilai tradisi.

Penguatan Infrastruktur Kawasan

Waskita Karya membangun berbagai fasilitas pendukung untuk meningkatkan kenyamanan umat dan pengunjung. Misalnya, Pelataran Manik Mas hadir sebagai ruang utama aktivitas keagamaan. Selain itu, area parkir kendaraan roda dua dan roda empat membantu mengurangi kepadatan di zona inti pura.

Kemudian, jalur pedestrian menghubungkan berbagai titik penting di kawasan sehingga pergerakan pengunjung menjadi lebih teratur. Area Bencingah berfungsi sebagai ruang kegiatan komunal yang mendukung aktivitas sosial masyarakat. Sementara itu, taman kawasan menambah unsur hijau yang memperkuat keseimbangan lingkungan.

Selain fasilitas tersebut, pembangunan kantor desa, BUMDes, dan wantilan memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat aktivitas sosial dan budaya. Dengan demikian, kawasan Besakih tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang kehidupan masyarakat yang dinamis.

Infrastruktur

Kawasan Suci Pura Agung Besakih di lereng Gunung Agung, Karangasem, Bali yang direvitalisasi Waskita Karya.

Pelestarian Arsitektur dan Nilai Budaya Bali

Revitalisasi kawasan tetap mengutamakan pelestarian arsitektur tradisional Bali. Oleh karena itu, setiap desain bangunan mengikuti prinsip bentuk, orientasi, dan filosofi ruang yang telah di wariskan secara turun-temurun.

Di samping itu, material bangunan dan detail visual menyesuaikan karakter budaya lokal. Pendekatan ini menjaga kesinambungan antara struktur lama dan fasilitas baru. Dengan cara ini, identitas budaya kawasan Pura Agung Besakih tetap terjaga meskipun terjadi pengembangan infrastruktur.

Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat

Revitalisasi kawasan memberikan dampak langsung terhadap masyarakat sekitar. Pertama, aktivitas ekonomi meningkat karena jumlah pengunjung terus bertambah. Kedua, sektor UMKM lokal berkembang melalui perdagangan dan jasa yang mendukung kegiatan keagamaan maupun pariwisata.

Selain itu, masyarakat memanfaatkan ruang-ruang baru untuk berbagai aktivitas budaya dan sosial. Dengan demikian, kawasan ini tidak hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Infrastruktur sebagai Sarana Pelestarian Budaya

PT Waskita Karya (Persero) Tbk menempatkan infrastruktur sebagai sarana untuk menjaga nilai budaya. Oleh karena itu, setiap pembangunan tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan nilai sosial dan spiritual masyarakat.

Kemudian, perusahaan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap tahap pembangunan. Dengan pendekatan ini, kawasan Besakih berkembang tanpa kehilangan identitas budayanya. Selain itu, infrastruktur yang dibangun juga mendukung aktivitas masyarakat dalam jangka panjang.

Penutup

Revitalisasi kawasan suci Pura Agung Besakih menunjukkan bahwa pembangunan dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Di satu sisi, fasilitas baru meningkatkan kenyamanan dan keteraturan kawasan. Di sisi lain, nilai spiritual dan tradisi tetap terjaga dengan baik.

Dengan demikian, proyek yang dijalankan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk memperkuat peran infrastruktur sebagai bagian dari kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Akhirnya, Besakih tetap berdiri sebagai pusat spiritual sekaligus simbol harmoni antara modernisasi dan warisan budaya Bali.