Emisi Industri – Upaya penurunan emisi karbon di sektor industri terus menghadapi berbagai tantangan struktural meskipun pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Kondisi ini membuat pengelolaan dekarbonisasi industri sulit berlangsung secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sektor industri membutuhkan pendekatan yang lebih terintegrasi agar target penurunan emisi dapat tercapai secara efektif.
Seiring meningkatnya tekanan global terhadap komitmen iklim, perusahaan industri dituntut untuk tidak hanya mengadopsi teknologi energi bersih, tetapi juga mengelola sistem energi secara menyeluruh. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak inisiatif dekarbonisasi masih berjalan secara terpisah dan belum saling terhubung.
Fragmentasi Inisiatif Dekarbonisasi sebagai Hambatan Utama
CEO SUN Energy, Emmanuel Jefferson Kuesar, menjelaskan bahwa salah satu kendala terbesar dalam menurunkan emisi industri berasal dari fragmentasi inisiatif dekarbonisasi. Banyak perusahaan menjalankan proyek energi bersih secara terpisah di setiap fasilitas produksi tanpa integrasi antarlokasi. Akibatnya, efisiensi pengelolaan energi tidak berkembang secara optimal.
Selain itu, pemasangan sistem energi bersih yang berdiri sendiri di setiap lokasi produksi membuat perusahaan kesulitan mengontrol konsumsi energi secara menyeluruh. Ketika setiap fasilitas menggunakan pendekatan berbeda, maka konsistensi pengurangan emisi sulit tercapai.
Lebih jauh, keterbatasan sistem pemantauan data energi secara terpusat memperbesar kompleksitas operasional. Perusahaan dengan banyak lokasi produksi membutuhkan visibilitas data yang komprehensif agar pengambilan keputusan strategis dapat berlangsung secara cepat dan akurat. Tanpa dukungan sistem digital terintegrasi, perusahaan akan menghadapi kesenjangan informasi yang signifikan.

Penurunan Emisi Industri Terkendala Meski Adopsi Energi Baru Terbarukan Meningkat. (Foto: Dok. SUN Energy)
Peran Teknologi dalam Mempercepat Dekarbonisasi Industri
Dalam konteks tersebut, Emmanuel menekankan bahwa pengembangan teknologi akan menjadi faktor kunci untuk mempercepat dekarbonisasi industri ke depan. Teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat produksi energi bersih, tetapi juga sebagai sistem pengelolaan energi yang menyeluruh dan adaptif.
Memasuki tahun 2026, SUN Energy mengarahkan strategi bisnis tidak hanya pada pengembangan proyek energi surya, tetapi juga pada pemanfaatan teknologi penyimpanan energi. Salah satu fokus utama mencakup Battery Energy Storage System (BESS) yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan sektor industri dengan konsumsi energi tinggi dan pola operasional kompleks.
Sektor seperti pertambangan dan manufaktur berat membutuhkan sistem energi yang stabil dan fleksibel. Oleh sebab itu, teknologi penyimpanan energi memainkan peran penting dalam menjaga keandalan pasokan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan.
Integrasi Pembangkitan, Penyimpanan, dan Manajemen Energi
SUN Energy menempatkan integrasi antara pembangkitan energi, penyimpanan, dan sistem manajemen energi sebagai fondasi utama dalam strategi dekarbonisasi industri. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan industri mengelola pasokan energi secara lebih efisien sekaligus menekan emisi karbon secara konsisten.
Melalui integrasi tersebut, perusahaan dapat mengatur pola konsumsi energi berdasarkan kebutuhan operasional aktual. Selain itu, sistem manajemen energi terintegrasi memungkinkan pemantauan performa energi secara real time, sehingga perusahaan dapat melakukan penyesuaian strategis secara berkelanjutan.
Dengan demikian, integrasi sistem energi tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi industri dalam menghadapi fluktuasi pasokan.
Kolaborasi Lintas Ekosistem untuk Pengelolaan Energi Menyeluruh
Selain fokus pada teknologi, SUN Energy juga memperluas kolaborasi lintas ekosistem dengan kawasan industri. Kerja sama ini mencakup pembangunan sistem energi terintegrasi yang melibatkan berbagai aspek operasional industri.
Melalui pendekatan kolaboratif, perusahaan industri dapat mengembangkan elektrifikasi armada kendaraan operasional serta memperluas infrastruktur kendaraan listrik. Langkah ini membuka peluang pengurangan emisi tidak hanya dari sisi pembangkitan energi, tetapi juga dari sektor transportasi industri.
Pendekatan menyeluruh ini memungkinkan industri mengelola energi dan emisi dari hulu hingga hilir. Dengan mengaitkan sumber energi, sistem penyimpanan, dan mobilitas, industri dapat menjadikan dekarbonisasi sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang, bukan sekadar kewajiban lingkungan.
Ekspansi Peran SUN Energy dalam Bauran Energi Nasional
Memasuki 2026, SUN Energy berencana memperkuat perannya di sektor industri sekaligus memperluas keterlibatan di segmen Independent Power Producer (IPP). Melalui pengembangan proyek energi surya berskala besar, perusahaan berupaya mendukung peningkatan bauran energi nasional secara signifikan.
Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi SUN Energy dalam ekosistem energi nasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap target transisi energi Indonesia. Dengan skala proyek yang lebih besar, pemanfaatan energi surya dapat menjangkau lebih banyak sektor industri.
Integrasi Ekosistem Bisnis untuk Solusi Keberlanjutan
Sejalan dengan strategi tersebut, SUN Energy juga memperkuat ekosistem bisnis melalui integrasi berbagai lini solusi. SUN Mobility berperan sebagai penyedia solusi elektrifikasi transportasi dan infrastruktur kendaraan listrik, sementara SUN Terra berfokus pada pengelolaan dan optimalisasi sistem energi surya.
Integrasi ini dirancang untuk menghadirkan solusi keberlanjutan yang mencakup energi, mobilitas, dan pengelolaan sumber daya secara terpadu. Dengan pendekatan tersebut, SUN Energy berupaya mendukung agenda dekarbonisasi industri secara lebih komprehensif dan berkelanjutan.