PT Elnusa Tbk (Elnusa) – Menilai kenaikan harga minyak dunia yang berlangsung dalam jangka panjang berpotensi mendorong meningkatnya aktivitas eksplorasi dan eksploitasi di lapangan-lapangan marginal maupun terpencil. Kenaikan harga ini menghadirkan peluang ekonomi baru bagi industri hulu migas di Indonesia, khususnya dalam mengoptimalkan lapangan yang selama ini dianggap kurang ekonomis.
Direktur Keuangan PT Elnusa, Nelwin Aldriansyah, menyatakan hal ini dalam acara buka puasa bersama yang di gelar di Jakarta, Kamis. “Dengan kenaikan harga minyak yang berkelanjutan, peluang untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di lapangan marginal akan semakin terbuka,” ujar Nelwin. Pernyataan ini menunjukkan optimisme perusahaan terhadap prospek sektor hulu migas di tengah kondisi harga global yang menguat.
Pergerakan Harga Minyak dan Dampaknya
Harga minyak mentah jenis Brent (ICE) kini telah menembus level 83 dolar AS per barel, meningkat signifikan di bandingkan rata-rata harga Brent pada Januari 2026 yang berada di kisaran 64 dolar AS per barel. Kenaikan harga ini menjadi sinyal positif bagi pelaku industri hulu migas, terutama dalam memutuskan kelayakan ekonomi pengembangan lapangan minyak marginal.
Nelwin menjelaskan, ketika harga minyak berada di bawah 60 dolar AS per barel, banyak lapangan marginal di Indonesia di anggap tidak layak di garap. Biaya produksi atau lifting di Indonesia, terutama untuk lapangan lepas pantai (offshore), tergolong tinggi di bandingkan negara-negara Timur Tengah. “Di harga 60 dolar AS per barel, operasi migas di beberapa negara masih ekonomis, tetapi di Indonesia belum menguntungkan,” jelasnya.
Kondisi ini membuat perusahaan migas cenderung menunda pengembangan lapangan-lapangan kecil atau marginal. Namun dengan harga minyak di atas 80 dolar AS per barel, Nelwin meyakini industri hulu migas akan terdorong untuk kembali aktif melakukan eksplorasi dan eksplotasi, sehingga potensi produksi nasional dapat meningkat.

Direktur Keuangan PT Elnusa Nelwin Aldriansyah memberi paparan dalam acara buka puasa bersama yang digelar di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Peluang Bisnis dan Dampak pada Elnusa
Peningkatan aktivitas eksplorasi dan eksploitasi tentu akan memicu permintaan layanan pendukung, seperti survei seismik, pengeboran, dan layanan teknik lainnya. Nelwin memproyeksikan bahwa Elnusa dan beberapa anak perusahaannya akan memperoleh dampak positif dari tren ini.
“Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan akan meningkatkan kegiatan usaha di Elnusa dan anak perusahaan kami. Permintaan untuk layanan survei seismik dan pengeboran di pastikan akan bertambah,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan peran strategis Elnusa dalam mendukung kegiatan hulu migas di Indonesia, baik dari sisi teknis maupun operasional.
Situasi Geopolitik dan Dampaknya pada Pasar Minyak
Selain faktor harga, kondisi geopolitik global juga menjadi perhatian industri migas. Media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz secara efektif tertutup akibat ketegangan antara AS dan Israel. Selat ini memegang peran vital dalam perdagangan minyak dunia, karena sekitar seperlima perdagangan minyak global serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab melewati jalur tersebut.
Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan tekanan harga minyak global. Sekitar 20 juta barel minyak per hari, yang setara dengan 20 persen konsumsi harian dunia, melintasi koridor ini. Kondisi ini mendorong perusahaan migas untuk menyesuaikan strategi produksi dan distribusi agar tetap optimal dalam menghadapi fluktuasi harga akibat faktor geopolitik.
Prospek Sektor Hulu Migas Indonesia
Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan membuka peluang signifikan bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi migas dari lapangan marginal. Lapangan yang sebelumnya di anggap tidak layak secara ekonomi kini dapat menjadi target pengembangan baru. Hal ini tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi nasional, tetapi juga membuka peluang bisnis bagi perusahaan jasa migas lokal.
Elnusa, sebagai salah satu perusahaan pendukung hulu migas, dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperluas layanan teknis dan operasionalnya. Investasi pada teknologi survei dan pengeboran yang lebih efisien juga menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi lapangan marginal. Dengan kombinasi harga minyak tinggi dan strategi operasional yang tepat, sektor hulu migas Indonesia berpotensi menghadapi periode pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang.