Dorayaki – Bagi banyak penggemar budaya populer Jepang, terutama penggemar anime Doraemon, kue dorayaki identik dengan robot kucing yang gemar menikmatinya. Namun, kue ini lebih dari sekadar camilan di dunia fiksi. Dorayaki memiliki sejarah panjang, filosofi yang mendalam, dan statusnya sebagai salah satu wagashi (kue tradisional Jepang) yang paling di cintai.

Dorayaki terdiri dari dua lapisan kue pipih berbentuk bulat yang di apit oleh isian pasta kacang merah atau anko. Walaupun memiliki bentuk yang menyerupai pancake Barat, dorayaki memiliki tekstur yang lebih lembut dan mendekati sponge cake. Ciri khas ini membedakan dorayaki dari banyak jenis kue lainnya, baik di Jepang maupun di luar Jepang.

Dorayaki: Adaptasi dari Castella, Bukan Sekadar Pancake

Meskipun dorayaki terlihat seperti pancake, kue ini memiliki akar yang lebih dalam. Menurut Japan-Experience, dorayaki berasal dari kue Portugal bernama Castella atau kasutera yang di bawa misionaris ke Jepang pada abad ke-16. Perbedaan utama terletak pada tekstur adonan dorayaki yang lebih lembut dan mirip sponge cake, sementara pancake gaya Barat memiliki tekstur yang lebih padat. Di Jepang, pancake (pankeki) di anggap sebagai jenis kue yang berbeda dari dorayaki.

Selain anko, dorayaki juga mengalami berbagai inovasi modern. Kini, banyak variasi dorayaki yang menggunakan isian seperti whipped cream, matcha, kastanye, ubi manis, atau bahkan es krim. Keberagaman ini menunjukkan bahwa dorayaki mampu beradaptasi dengan tren kuliner zaman sekarang, namun tetap mempertahankan warisan tradisionalnya.

Dorayaki

Ilustrasi dorayaki, pancake khas Jepang berisi pasta kacang merah. (SHUTTERSTOCK/SASAKEN)

Asal Usul Nama “Dorayaki” dan Legenda di Baliknya

Nama dorayaki memiliki hubungan erat dengan sejarah Jepang. Kata dora dalam bahasa Jepang berarti “gong”, yang menggambarkan bentuk kue dorayaki yang bulat dan berwarna keemasan, mirip dengan alat musik pukul tersebut. Berdasarkan legenda, seorang biksu prajurit bernama Saito no Musashibo Benkei (1155–1189) pernah meninggalkan gong miliknya di rumah seorang petani saat bersembunyi. Petani tersebut kemudian menggunakan gong itu untuk menggoreng kue yang akhirnya di kenal sebagai dorayaki.

Selain legenda itu, ada pula teori yang mengaitkan bentuk dorayaki dengan pengaruh kue-kue Barat yang di bawa ke Jepang. Bentuk dorayaki yang “terbuka” di sisi samping membedakannya dari kue tradisional Jepang lainnya, seperti manju atau imagawayaki, yang menyembunyikan isian kacangnya sepenuhnya di dalam adonan.

Perkembangan dan Popularitas Dorayaki di Era Modern

Dorayaki dalam bentuk modern yang kita kenal saat ini mulai di populerkan pada tahun 1914. Toko kue Usagiya di Ueno, Tokyo, memperkenalkan bentuk dorayaki yang mirip sandwich kepada masyarakat. Seiring waktu, dorayaki menjadi camilan yang digemari oleh banyak kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa.

Di wilayah Kansai, dorayaki lebih di kenal dengan nama mikasa, merujuk pada Gunung Wakakusa (Gunung Mikasa) di Nara. Bentuk bulat dorayaki sering dikaitkan dengan pemandangan bulan purnama yang terlihat dari puncak gunung tersebut, menambah nilai simbolis kue ini dalam budaya Jepang.

Filosofi di Balik Dorayaki: Lebih dari Sekadar Makanan

Dorayaki tidak hanya sekadar kue manis. Dalam setiap lapisan kue dan pasta kacang merah, dorayaki mengandung filosofi yang mendalam. Bentuk dorayaki yang bulat melambangkan kesempurnaan dan harmoni, prinsip yang di hargai dalam budaya Jepang. Selain itu, bahan-bahan yang di gunakan, seperti tepung, telur, gula, dan pasta kacang merah, mencerminkan prinsip wabi-sabi, yakni penghargaan terhadap keindahan dalam kesederhanaan dan ketidaksempurnaan.

Selain itu, dorayaki membawa kenangan bagi banyak orang Jepang, terutama dalam konteks masa kecil yang penuh kenangan indah. Hal ini semakin populer berkat penggambaran dalam serial anime Doraemon, yang membuat kue ini menjadi simbol kebahagiaan dan kenangan yang manis.

Dorayaki Sebagai Bagian dari Warisan Budaya Jepang

Dorayaki lebih dari sekadar kue manis yang di kenal dalam budaya Jepang. Sejak kedatangan Castella pada abad ke-16 hingga bentuk dorayaki modern yang kita kenal sekarang, kue ini mencerminkan kekayaan tradisi kuliner Jepang. Tidak hanya menyimpan sejarah panjang, dorayaki juga mengandung filosofi yang mendalam dan terus berkembang sesuai dengan zaman. Sebagai salah satu wagashi yang paling dicintai, dorayaki tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Jepang, membawa keindahan, kesederhanaan, dan kenangan bagi banyak generasi.