Persija Jakarta – Semakin menghadapi tekanan besar dalam perburuan gelar juara Super League 2025/2026 setelah menelan kekalahan dari Arema FC pada Minggu (8/2). Kekalahan 0-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno menambah catatan negatif tim ibu kota menjadi lima kekalahan. Dengan tren ini, peluang Persija meraih gelar juara kian menipis jika melihat pola dari musim-musim sebelumnya.

Sejak Liga 1 bergulir kembali pada 2017, setelah era pembekuan FIFA, tim-tim yang meraih gelar juara umumnya memiliki catatan kekalahan minimal. Dominasi juara liga memang lebih di tentukan oleh konsistensi menang dan kemampuan meminimalkan kekalahan selama satu musim.

Pola Juara Liga Sejak 2017

Persib Bandung menjadi contoh nyata dominasi konsistensi ini. Musim 2024/2025, Persib sukses menjuarai Liga 1 hanya dengan tiga kekalahan. Musim sebelumnya, mereka hanya menelan empat kekalahan pada fase reguler dan bahkan tak terkalahkan di fase championship.

PSM Makassar pun menunjukkan pola serupa. Juku Eja, julukan PSM, meraih gelar pada musim 2022/2023 dengan catatan hanya tiga kali kalah sepanjang musim. Bali United juga pernah menunjukkan performa konsisten pada musim 2021/2022 dengan lima kekalahan.

Jika mengacu pada empat musim terakhir dalam format lintas tahun, Persija berada dalam posisi yang sangat kritis. Tim ibu kota tidak boleh tersandung lagi dalam 14 pertandingan tersisa musim ini, sebab satu kekalahan tambahan bisa membuat gelar juara sulit di raih.

Persija Jakarta

Bek kanan Arema FC Rio, Fahmi (bawah) menekel bek kiri Persija Jakarta Donny Tri Pamungkas (atas) pada pertandingan Super League di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (8/2).

Peluang Persija Berdasarkan Catatan Sejarah

Meski begitu, jika menengok tiga musim sebelumnya, yakni 2017, 2018, dan 2019, peluang juara Persija masih terbuka. Data menunjukkan bahwa jumlah kekalahan tim juara pada tiga musim tersebut lebih tinggi di banding musim-musim terbaru.

Bali United, misalnya, yang menjuarai musim 2019, menelan delapan kekalahan sepanjang musim. Catatan ini sejajar dengan torehan Persija saat menjuarai musim 2018. Bahkan pada edisi perdana Liga 1 tahun 2017, Bhayangkara berhasil menjadi juara meski kalah 10 kali dalam semusim. Kunci keberhasilan Bhayangkara bukan hanya sedikitnya imbang, tetapi juga tingginya jumlah kemenangan. Tim yang dijuluki The Guardian itu hanya imbang dua kali, sementara sisanya mereka menangkan dengan penuh strategi di bawah arahan Simon McMenemy.

Dengan melihat tujuh musim kompetisi sebelumnya, tanpa menghitung musim 2020 yang tidak rampung, kans Persija secara matematis masih ada, tetapi berada di tahap kritis. Kekalahan lebih lanjut akan semakin memperkecil peluang mereka merebut gelar juara.

Tantangan dan Strategi Persija

Persija harus menjaga fokus penuh karena rival-rival utama seperti Persib Bandung dan Borneo FC terus menunjukkan performa stabil dan konsisten meraih kemenangan. Dalam kondisi ini, pelatih Mauricio Souza tetap menunjukkan sikap optimistis.

“Terkait selisih enam poin dengan Persib Bandung, kami hanya fokus pada diri sendiri. Laga ini memang sangat penting karena tim di atas kami menang. Kompetisi masih panjang,” ujar Souza.

Dengan kata lain, Persija tidak bisa lagi melakukan kesalahan dalam sisa pertandingan. Mereka perlu meningkatkan efektivitas lini serang sekaligus memperkuat pertahanan untuk menahan tekanan dari rival-rival utama. Setiap pertandingan sisa menjadi penentu bagi kelanjutan perjalanan mereka di papan atas klasemen.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Persija Jakarta menghadapi musim yang penuh tantangan dalam upaya meraih gelar juara Super League 2025/2026. Catatan lima kekalahan menunjukkan tim berada di zona kritis, tetapi sejarah menunjukkan bahwa peluang juara tetap terbuka jika mereka mampu memaksimalkan sisa pertandingan. Konsistensi menang, fokus penuh pada setiap laga, dan strategi tepat dari pelatih menjadi faktor penentu. Persija kini harus menatap setiap pertandingan sebagai momentum untuk membalikkan keadaan dan mempertahankan peluang di papan atas liga.