Bocorkan – Pengembangan motor di ajang MotoGP menjadi proses yang sangat menantang bagi setiap pabrikan. Pertama, tim insinyur berusaha meningkatkan kecepatan dan stabilitas motor balap. Namun, tantangan muncul karena setiap kemajuan di satu sektor kerap menurunkan performa di sektor lain. Oleh sebab itu, pabrikan harus menimbang setiap keputusan secara hati-hati. Selanjutnya, mereka memastikan bahwa hasil pengembangan berlaku efektif di semua sirkuit. Selain itu, mereka juga mengejar konsistensi, karena keberhasilan hanya di lintasan tertentu tidak cukup membantu dalam perburuan gelar juara dunia.
Perubahan teknis pada motor balap membutuhkan evaluasi berkelanjutan. Feeling yang lebih nyaman bagi pebalap belum tentu meningkatkan performa maksimal motor. Karena itu, pabrikan harus menguji setiap komponen secara menyeluruh. Akhirnya, mereka hanya mengambil langkah yang benar-benar memberikan manfaat besar tanpa memunculkan risiko berlebihan. Transisi demi transisi dalam proses pengembangan menjadi kunci utama agar motor tetap kompetitif dari awal musim sampai akhir musim.
Pandangan Marc Marquez Soroti Feeling Bagian Depan Ducati
Feeling Roda Depan Menjadi Elemen Paling Sensitif
Marc Marquez menanggapi upaya Francesco Bagnaia dan Fabio di Giannantonio untuk meningkatkan feeling bagian depan Ducati Desmosedici menjelang musim 2026. Menurut Marquez, peningkatan rasa pada roda depan memang krusial bagi setiap pebalap MotoGP. Pertama, ban depan menjadi komponen paling sensitif dalam mengendalikan motor. Kemudian, kontrol pada bagian depan menentukan kemampuan pebalap saat memasuki tikungan cepat. Selanjutnya, feeling yang tepat membantu pebalap menjaga keseimbangan antara akselerasi dan pengereman.
Namun, Marquez mengingatkan bahwa peningkatan rasa pada roda depan biasanya harus dibayar dengan pengorbanan di sektor lain. Karena itu, Ducati perlu mencari keseimbangan terbaik. Perubahan kecil dapat meningkatkan kepercayaan diri pebalap, tetapi perubahan besar justru bisa merusak karakter dasar motor. Oleh sebab itu, setiap pabrikan harus berhati-hati dalam menentukan arah teknis. Akhirnya, keuntungan harus lebih besar dibandingkan kerugian agar performa motor tetap optimal secara keseluruhan.

Pebalap Ducati Lenovo Team, Marc Marquez, mengendarai motornya dalam sesi Practice MotoGP Indonesia 2025 di Sirkuit Internasional Mandalika di Mandalika, Nusa Tenggara Barat pada 3 Oktober 2025. (Foto oleh SONNY TUMBELAKA / AFP)(AFP/SONNY TUMBELAKA)
Fondasi Kuat Ducati Tidak Perlu Perubahan Drastis
Pengembangan Kecil Lebih Aman daripada Lompatan Besar
Marc Marquez menilai Ducati sudah memiliki fondasi yang sangat kuat dari sisi teknis. Oleh karena itu, Ducati tidak bisa berharap menemukan lompatan performa besar hanya dari satu aspek pengembangan. Sebaliknya, Ducati lebih fokus pada perubahan-perubahan kecil dan terukur seperti yang pernah diterapkan pada musim dingin sebelumnya. Pertama, Ducati melakukan evaluasi menyeluruh pada spesifikasi mesin. Kemudian, tim teknis mempertimbangkan berbagai masukan dari pebalap. Selanjutnya, Ducati memilih langkah hati-hati untuk menjaga kestabilan.
Keputusan Ducati kembali menggunakan spesifikasi mesin yang mendekati GP24 mencerminkan strategi tersebut. Awalnya, Ducati merencanakan penggunaan mesin GP25 dalam tes pramusim. Namun, setelah itu, Ducati memilih pendekatan lebih aman demi menghindari risiko salah arah. Oleh sebab itu, kehati-hatian Ducati menjadi contoh penting dalam dunia MotoGP modern. Transisi kecil dalam pengembangan motor sering kali lebih efektif daripada perubahan ekstrem yang belum tentu cocok untuk semua pebalap.
Kesulitan Bagnaia dan Di Giannantonio pada Musim 2025
Performa Konsisten Menjadi Masalah Utama
Sepanjang musim 2025, Francesco Bagnaia dan Fabio di Giannantonio masih kesulitan menemukan performa yang konsisten dengan motor Ducati terbaru. Pertama, mereka berusaha beradaptasi dengan spesifikasi teknis baru. Kemudian, perubahan karakter motor belum terasa cocok dengan gaya berkendara mereka. Selanjutnya, hasil balapan menunjukkan naik turun performa di berbagai sirkuit. Karena itu, Ducati terus mencari solusi terbaik untuk meningkatkan rasa bagian depan tanpa mengurangi kecepatan puncak.
Sebaliknya, Marc Marquez tampil sangat dominan pada musim debutnya bersama tim pabrikan Ducati. Pebalap asal Spanyol tersebut memastikan keunggulan dalam perburuan gelar melalui rentetan kemenangan luar biasa. Ia mencatatkan 14 kemenangan beruntun pada balapan Sprint maupun Grand Prix dari seri Aragon hingga Hungaria. Prestasi ini menunjukkan bahwa adaptasi cepat terhadap Ducati Desmosedici membawa hasil besar bagi Marquez.
Tes Aragon Menjadi Titik Balik Teknis bagi Marquez
Setelan dan Aerodinamika Mengalami Peningkatan Signifikan
Marc Marquez menyebut tes pascabalapan di Aragon sebagai momen titik balik terpenting dari sisi teknis. Pertama, Ducati melakukan penyesuaian setelan motor secara bertahap. Kemudian, tim teknis memperbaiki sektor aerodinamika untuk meningkatkan stabilitas. Selanjutnya, Marquez mulai menggunakan geometri dan dimensi motor yang sama dengan pebalap Ducati lainnya. Karena itu, karakter motor menjadi lebih mudah dikendalikan dibandingkan paruh pertama musim.
Pada paruh awal musim 2025, Marquez mengendarai motor dengan karakter lebih agresif. Namun, setelah itu, penyesuaian kecil Ducati membawa perubahan besar pada kemudahan kontrol. Feeling berkendara meningkat, kepercayaan diri bertambah, dan performa menjadi lebih stabil. Akhirnya, Ducati dan Marquez menemukan arah teknis yang benar-benar cocok untuk semua sirkuit.
Marquez Bersiap Kembali pada Tes Pramusim Sepang
Cedera Tidak Menghentikan Persiapan Musim 2026
Meski sempat mengalami cedera sepekan setelah meraih gelar juara grand prix kesembilan di Motegi, Marc Marquez dijadwalkan kembali turun lintasan pada tes pramusim MotoGP di Sepang, awal Februari mendatang. Pertama, proses pemulihan berjalan sesuai rencana. Kemudian, Ducati mempersiapkan program teknis baru untuk musim 2026. Selanjutnya, Marquez bertekad kembali melanjutkan performa dominan pada musim berikutnya.
Pada akhirnya, pengembangan motor MotoGP tetap menjadi proses yang penuh tantangan, penuh perhitungan, serta penuh kehati-hatian. Oleh sebab itu, setiap pabrikan harus mengambil langkah kecil yang tepat agar performa motor terus meningkat. Transisi teknis yang konsisten menjadi kunci utama untuk menghadapi persaingan global MotoGP secara efektif dan berkelanjutan.