Fenomena Hujan Meteor – Selalu menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan pemandangan langit yang jarang terjadi namun mudah diamati. Pada awal Mei 2026, langit Indonesia kembali menawarkan momen istimewa melalui hujan meteor Eta Aquarids. Peneliti astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyampaikan bahwa puncak aktivitas meteor ini terjadi pada Rabu, 6 Mei 2026 dini hari dengan jumlah meteor yang dapat terlihat mencapai puluhan per jam pada kondisi ideal.
Fenomena ini tidak membutuhkan alat khusus sehingga masyarakat dapat menikmati keindahannya langsung menggunakan mata telanjang. Namun, beberapa faktor seperti cahaya bulan, kondisi cuaca, dan polusi cahaya tetap memengaruhi kualitas pengamatan.
Asal Usul Hujan Meteor Eta Aquarids dari Komet Halley
Hujan meteor Eta Aquarids muncul ketika Bumi melintasi jalur partikel debu yang berasal dari Komet Halley. Komet ini mengelilingi Matahari dalam periode sekitar 76 tahun dan meninggalkan jejak debu setiap kali melewati bagian dalam tata surya.
Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa partikel sisa Komet Halley masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi. Gesekan dengan udara membuat partikel tersebut terbakar dan menghasilkan cahaya terang yang tampak seperti garis melintas di langit. Masyarakat sering menyebut fenomena ini sebagai “bintang jatuh”.
Rasi bintang Aquarius menjadi titik acuan visual dari hujan meteor Eta Aquarids. Pengamat melihat meteor seolah-olah berasal dari arah rasi tersebut, meskipun sebenarnya partikel melintas di berbagai sudut langit.
Waktu Puncak dan Intensitas Meteor di 2026
BRIN memperkirakan puncak hujan meteor Eta Aquarids terjadi pada 6 Mei 2026 dini hari. Pada waktu tersebut, pengamat di Indonesia berpeluang melihat sekitar 10 hingga 30 meteor per jam. Kondisi langit yang sangat bersih bahkan dapat meningkatkan jumlah pengamatan hingga mendekati angka maksimum global yang mencapai sekitar 50 meteor per jam.
American Meteor Society mencatat bahwa Eta Aquarids termasuk hujan meteor dengan intensitas cukup tinggi dibandingkan banyak fenomena tahunan lainnya. Meteor dalam hujan ini juga melaju dengan kecepatan sangat tinggi, yaitu sekitar 66 kilometer per detik, sehingga menciptakan garis cahaya yang cepat dan singkat.
Namun, tahun 2026 menghadirkan tantangan tambahan karena fase Bulan sabit yang cukup terang hadir bersamaan dengan puncak hujan meteor. Cahaya bulan ini mengurangi visibilitas meteor redup sehingga pengamat hanya dapat menangkap meteor yang lebih terang.

Hujan Meteor
Cara Mengamati Hujan Meteor Eta Aquarids di Indonesia
Thomas Djamaluddin menegaskan bahwa masyarakat tidak membutuhkan teleskop untuk menikmati hujan meteor ini. Mata telanjang sudah cukup untuk menangkap fenomena tersebut karena meteor muncul di berbagai bagian langit, bukan hanya satu titik kecil.
Pengamat perlu memilih lokasi yang jauh dari cahaya kota agar langit terlihat lebih gelap. Kondisi gelap membantu mata menangkap lebih banyak meteor yang melintas. Pengamat juga perlu memastikan pandangan ke arah langit timur tidak terhalang bangunan, pepohonan, atau struktur lainnya.
Selain lokasi, waktu pengamatan juga memegang peranan penting. Pengamat sebaiknya mulai melihat langit sekitar 30 menit sebelum puncak aktivitas atau menjelang fajar. Pada waktu tersebut, posisi rasi Aquarius mulai naik di langit sehingga peluang melihat meteor meningkat.
Pengamat juga perlu membiarkan mata beradaptasi dengan kegelapan. Proses adaptasi ini biasanya memerlukan waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Selama proses tersebut, pengamat sebaiknya menghindari cahaya terang, terutama dari layar ponsel. Jika pengamat membutuhkan penerangan, mereka dapat menggunakan senter dengan cahaya merah agar penglihatan malam tetap optimal.
Mengapa Eta Aquarids Menjadi Fenomena yang Menarik
Eta Aquarids menarik perhatian karena menggabungkan beberapa faktor penting dalam astronomi observasional. Fenomena ini berasal dari komet terkenal, memiliki kecepatan meteor yang tinggi, dan memberikan jumlah meteor yang cukup banyak dalam waktu singkat.
Selain itu, hujan meteor ini muncul setiap tahun sehingga masyarakat dapat menantikan kemunculannya secara rutin. Keberadaan Komet Halley sebagai sumber utama juga menambah nilai sejarah dan ilmiah dari fenomena ini. Komet tersebut baru akan kembali melintasi Bumi pada tahun 2061, sehingga hujan meteor Eta Aquarids menjadi salah satu cara terbaik untuk tetap mengamati sisa jejaknya dari kejauhan.
Kesimpulan
Hujan meteor Eta Aquarids pada Mei 2026 memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menikmati keindahan langit malam. BRIN memperkirakan puluhan meteor dapat melintas setiap jam pada kondisi ideal, meskipun cahaya bulan dapat mengurangi jumlah meteor yang terlihat.
Pengamat dapat menikmati fenomena ini tanpa alat khusus selama mereka memilih lokasi gelap, menjaga pandangan luas ke langit, dan memberikan waktu bagi mata untuk beradaptasi. Dengan persiapan yang tepat, hujan meteor Eta Aquarids akan menjadi salah satu pengalaman astronomi paling menarik pada tahun 2026.