Harga Tiket Pesawat Berpotensi Mengalami Kenaikan setelah harga avtur nasional mencapai Rp23.315 per liter mulai 1 September 2026. Perubahan biaya bahan bakar tersebut membuka peluang bagi maskapai untuk menyesuaikan komponen biaya tambahan, sehingga masyarakat perlu menghadapi kemungkinan pengeluaran perjalanan udara yang lebih besar.

Kenaikan harga avtur ikut mengerek batas maksimal fuel surcharge (FS) atau biaya tambahan bahan bakar. Batas komponen tersebut kini mencapai 40 persen dari tarif batas atas (TBA). Kondisi itu memberi ruang lebih besar kepada perusahaan penerbangan untuk memasukkan tambahan biaya bahan bakar ke dalam perhitungan harga tiket.

Persoalan ini tidak hanya menyangkut industri penerbangan. Biaya perjalanan yang meningkat juga berpotensi memengaruhi keputusan masyarakat dalam menentukan agenda liburan. Jika wisatawan mengurangi perjalanan karena transportasi semakin mahal, pelaku usaha di berbagai destinasi dapat ikut merasakan dampaknya.

Insentif Pariwisata Bisa Mengimbangi Mahalnya Biaya Perjalanan

Peneliti Senior Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang, menilai pemerintah perlu mencari cara untuk menjaga minat masyarakat melakukan perjalanan wisata. Salah satu pilihan yang ia usulkan ialah memberikan insentif kepada industri pariwisata.

Menurut Deddy, wisatawan tidak hanya mengeluarkan uang untuk transportasi. Mereka juga harus menyiapkan anggaran untuk penginapan, makanan, serta berbagai kebutuhan selama berada di destinasi. Karena itu, peningkatan biaya penerbangan dapat memperbesar total pengeluaran perjalanan secara signifikan.

Deddy menyoroti beban pajak pada sektor hospitality, terutama hotel dan restoran. Menurutnya, pemerintah dapat mempertimbangkan pengurangan beban pajak pada sektor tersebut sebagai stimulus ketika masyarakat menghadapi kenaikan biaya transportasi.

Strategi itu dapat membantu destinasi mempertahankan daya tariknya. Ketika wisatawan harus membayar tiket pesawat lebih mahal, biaya hotel atau restoran yang lebih terjangkau dapat mengurangi tekanan terhadap keseluruhan anggaran liburan.

Pemerintah, menurut Deddy, perlu mencegah situasi ketika hampir seluruh komponen perjalanan mengalami kenaikan harga secara bersamaan. Destinasi yang menawarkan biaya lebih kompetitif berpeluang tetap menarik kunjungan meskipun ongkos menuju lokasi tersebut meningkat.

Harga Avtur Ikut Menekan Industri Penerbangan

Kenaikan harga avtur menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi struktur biaya maskapai. Bahan bakar merupakan komponen utama dalam operasional penerbangan. Karena itu, perubahan harga avtur dapat memengaruhi kemampuan maskapai mempertahankan tarif tiket.

Namun, Deddy juga mempertanyakan tingginya harga avtur nasional jika dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura. Ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi faktor-faktor yang membuat biaya bahan bakar penerbangan di Indonesia relatif mahal.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya muncul ketika nilai tukar rupiah melemah. Saat kurs rupiah berada dalam kondisi lebih stabil, harga avtur Indonesia juga dinilai masih lebih tinggi dibandingkan beberapa negara di kawasan.

Evaluasi terhadap struktur harga avtur menjadi semakin penting ketika harga minyak dunia bergerak naik. Jika beberapa tekanan biaya muncul secara bersamaan, industri penerbangan menghadapi tantangan yang semakin besar dalam mengendalikan ongkos operasional.

harga tiket pesawat

Ilustrasi pesawat, penerbangan.

Pelemahan Rupiah Tambah Tekanan Biaya Maskapai

Selain harga avtur, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat turut memberi tekanan kepada industri penerbangan. Kurs rupiah yang berada di kisaran Rp17.000 per dollar AS membuat sejumlah komponen biaya operasional menjadi semakin berat.

Industri penerbangan memiliki berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan mata uang asing. Karena itu, pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan finansial maskapai dan pada akhirnya mempersempit ruang perusahaan untuk mempertahankan harga tiket pada level yang terjangkau.

Kombinasi harga avtur tinggi dan rupiah yang melemah menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Pemerintah dapat mengevaluasi faktor pembentuk biaya penerbangan sekaligus menyiapkan kebijakan yang menjaga sektor pariwisata agar tetap kompetitif.

Biaya Transportasi Darat Juga Menjadi Pertimbangan Wisatawan

Tekanan biaya perjalanan tidak hanya terjadi pada transportasi udara. Masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi untuk menempuh perjalanan wisata juga menghadapi peningkatan pengeluaran akibat harga bahan bakar.

Deddy mencontohkan perubahan harga bensin dari sekitar Rp12.000 menjadi lebih dari Rp16.000 per liter. Selisih sekitar Rp4.000 per liter tersebut dapat menambah biaya secara signifikan, terutama bagi masyarakat yang melakukan perjalanan darat dalam jarak jauh.

Situasi tersebut membuat sebagian masyarakat berpotensi lebih berhati-hati dalam merencanakan liburan. Mereka dapat mempertimbangkan kembali jarak perjalanan, pilihan transportasi, lama menginap, hingga pengeluaran selama berada di destinasi.

Karena itu, upaya menjaga pertumbuhan pariwisata tidak cukup hanya berfokus pada harga tiket pesawat. Pemerintah juga perlu memperhatikan keseluruhan biaya perjalanan yang harus wisatawan keluarkan.

Insentif pada hotel, restoran, atau komponen pendukung pariwisata lainnya dapat menjadi salah satu pilihan untuk menjaga keseimbangan biaya. Ketika ongkos transportasi meningkat, harga layanan wisata yang lebih kompetitif dapat membantu mempertahankan minat masyarakat untuk bepergian.

Pada akhirnya, kenaikan harga tiket pesawat berpotensi menciptakan efek berantai terhadap sektor pariwisata apabila masyarakat mulai mengurangi perjalanan. Kebijakan yang mampu menekan beban biaya di destinasi dapat membantu menjaga daya beli wisatawan sekaligus mempertahankan aktivitas pelaku usaha pariwisata di tengah meningkatnya biaya transportasi.