Piranha Perut Merah Di Sungai Klau kembali menjadi perhatian setelah seorang pemancing menemukan ikan yang diduga berasal dari genus Pygocentrus di Pahang, Malaysia. Temuan terbaru itu merupakan kasus kedua di kawasan yang sama dalam rentang waktu kurang lebih satu bulan.
Komunitas pemancing Jejak Air Tawar mengabarkan penemuan tersebut melalui akun Facebook mereka pada Sabtu (19/9/2026). Menurut komunitas itu, seorang pemancing mendapatkan spesimen terbaru di bawah jembatan kawasan Rancangan Tanah Pemuda (RTP) Sungai Klau.
Kemunculan ikan kedua menimbulkan dugaan bahwa seseorang mungkin telah melepas lebih dari satu ikan asing ke perairan tersebut. Meski demikian, temuan itu belum membuktikan keberadaan populasi piranha yang berkembang secara alami di Sungai Klau.
Dua Ikan Ditemukan dalam Waktu Berdekatan
Kasus terbaru menyusul penemuan ikan serupa pada 26 Agustus 2026. Pemancing menemukan spesimen pertama di kawasan yang sama, sehingga kemunculan ikan kedua menarik perhatian komunitas pemancing setempat.
Jejak Air Tawar mencatat kedua ikan memiliki ukuran tubuh yang relatif serupa. Berdasarkan kemiripan tersebut, komunitas itu menduga keduanya mungkin berasal dari kelompok pelepasan yang sama.
Namun, mereka belum memiliki bukti untuk memastikan piranha telah berkembang biak di Sungai Klau. Karena itu, kemungkinan reproduksi alami masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi habitat juga menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian. Apabila lingkungan menyediakan kondisi air dan sumber daya yang sesuai, spesies asing berpotensi bertahan hidup. Akan tetapi, data yang tersedia saat ini belum cukup untuk menyatakan bahwa piranha telah membentuk populasi di kawasan tersebut.
Pemancing Diminta Mendokumentasikan Temuan
Seiring munculnya spesimen kedua, Jejak Air Tawar meminta pemancing dan nelayan di sekitar Klau meningkatkan kewaspadaan. Komunitas tersebut terutama meminta masyarakat memperhatikan ikan yang mempunyai karakteristik menyerupai piranha perut merah maupun red-bellied pacu.
Jika menemukan ikan mencurigakan, pemancing sebaiknya mengambil foto dan video dengan jelas. Selain itu, komunitas tersebut meminta spesimen tidak langsung di buang.
Jejak Air Tawar menyarankan pemancing menyimpan ikan dalam kondisi beku agar pihak terkait dapat mengambilnya untuk kebutuhan pemeriksaan dan penelitian. Langkah tersebut penting karena keberadaan spesimen fisik memungkinkan ahli melakukan identifikasi dengan lebih baik.
Kasus pertama menunjukkan pentingnya penyimpanan spesimen. Ikan yang tertangkap pada 26 Agustus di laporkan sudah mati dan kemudian pemancing membuangnya sebelum penyelidikan resmi berlangsung. Akibatnya, peneliti tidak dapat memeriksa ikan tersebut secara langsung.

Ilustrasi piranha perut merah.
Dinas Perikanan Malaysia Belum Menemukan Koloni Piranha
Di tengah kekhawatiran masyarakat, Direktur Jenderal Dinas Perikanan Malaysia Datuk Adnan Hussain menyatakan belum ada bukti mengenai keberadaan kelompok atau koloni piranha di kawasan Bendungan Klau.
Departemen Perikanan Pahang melakukan pemantauan serta investigasi lapangan hingga 15 September 2026. Dalam periode tersebut, petugas tidak mencatat tangkapan tambahan ataupun insiden keselamatan yang berhubungan dengan ikan predator tersebut.
Sementara itu, Institut Penelitian Perikanan Glami Lemi di Negeri Sembilan melakukan penilaian teknis berdasarkan foto dan rekaman video ikan yang tertangkap pada 26 Agustus. Hasil pengamatan menunjukkan ciri morfologi ikan itu sesuai dengan genus Pygocentrus, kelompok yang mencakup piranha.
Meski demikian, para peneliti belum dapat memastikan identitas ikan sampai tingkat spesies. Ketiadaan spesimen fisik membatasi pemeriksaan lanjutan dan membuat identifikasi definitif belum memungkinkan.
Karena itu, Adnan meminta masyarakat tidak panik. Departemen Perikanan Malaysia tetap menjalankan pemantauan terarah untuk mendeteksi perkembangan baru dan menentukan tindakan apabila kembali muncul temuan serupa.
Ikan Asing yang Tertangkap Jangan Dilepas Kembali
Adnan juga meminta masyarakat tidak mengembalikan ikan yang di duga sebagai spesies asing ke sungai atau perairan umum. Jika kondisi ikan masih memungkinkan, masyarakat perlu menyimpan spesimen lalu menghubungi kantor perikanan terdekat.
Keberadaan spesimen akan membantu petugas melakukan pemeriksaan lebih rinci. Bahkan, pihak berwenang dapat menggunakan pengujian DNA apabila metode tersebut di perlukan untuk memastikan identitas ikan.
Dinas Perikanan Malaysia menaruh perhatian pada pelepasan ikan asing karena spesies invasif berpotensi mengganggu keseimbangan perairan darat. Dampaknya dapat mencakup tekanan terhadap ikan lokal serta gangguan terhadap keanekaragaman hayati akuatik.
Oleh sebab itu, pihak berwenang berencana melanjutkan pemantauan rutin di sekitar Bendungan Klau. Dinas juga akan meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko melepas spesies ikan asing ke perairan umum.
Untuk saat ini, kemunculan dua ikan dengan karakteristik menyerupai piranha menjadi dasar bagi komunitas pemancing dan otoritas perikanan untuk meningkatkan pengawasan. Namun, bukti yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa piranha telah berkembang biak atau membentuk koloni di Sungai Klau.