Tim SAR – Gabungan terus bekerja keras untuk menemukan Suparto (51), seorang nelayan asal Dusun Kedondong, Desa Semare, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, yang dilaporkan hilang sejak Sabtu (7/2/2026). Pencarian kini memasuki hari kedua, dengan fokus menyisir perairan di sisi timur dari lokasi kejadian kecelakaan (LKK) pada Selasa (10/2/2026).
Koordinator Basarnas Jawa Timur, Gani Wiratama, menjelaskan bahwa arah pencarian hari ini di tentukan berdasarkan analisis arah angin dan arus laut. “Area pencarian berdasarkan arah angin dan arus, fokus pencarian hari ini mengarah ke timur dari LKK,” ungkap Gani saat di konfirmasi. Penentuan arah pencarian ini menjadi strategi penting untuk memperbesar peluang menemukan korban.
Luas dan Jangkauan Area Pencarian
Hari ini, tim SAR gabungan menargetkan area pencarian seluas sekitar 26 kilometer persegi. Batas pencarian di mulai dari sisi barat di Desa Semare hingga sisi timur di sekitar PLTG Lekok, dengan jarak tempuh kurang lebih 6,3 kilometer. Sementara itu, penyisiran ke tengah laut menjangkau radius sekitar 5,1 kilometer dari dermaga.
Untuk meningkatkan efektivitas pencarian, tim membagi area menjadi tiga sektor utama. Sektor 1 menggunakan perahu karet dari BPBD Kabupaten Pasuruan dan speed boat Satpolair Polres Pasuruan Kota. Sektor 2 di laksanakan dengan perahu karet milik BPBD Kota Pasuruan. Sedangkan sektor 3 melibatkan perahu karet Basarnas. Strategi pembagian sektor ini memungkinkan tim bekerja simultan dan menutupi area yang luas secara sistematis.

Petugas gabungan dari Basarnas, BPBD Kota dan Kabupaten Pasuruan menyisir perairan laut Pasuruan melakukan pencarian nelayan yang hilang, Selasa (10/2/2026).
Kronologi Hilangnya Suparto
Suparto di laporkan hilang saat melaut sendirian untuk mencari rajungan di perairan Kisik, Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan pada Sabtu (7/2/2026). Plt Kasi Humas Polres Pasuruan Kota, Aipda Junaedi, menyampaikan bahwa korban sempat terlihat oleh dua nelayan lain, Lukman Hadi dan Kusen. Kedua nelayan itu mencurigai perahu korban karena mesinnya menyala namun tidak ada pengemudi di dalamnya.
“Kedua saksi sempat berputar mencari pemilik perahu dan melihat korban berada di laut dalam kondisi berenang meminta pertolongan,” ujar Junaedi. Melihat kondisi itu, kedua nelayan langsung mencoba menolong dengan melemparkan umpal, yaitu pelampung tradisional dari bambu.
Tantangan Saat Penyelamatan
Upaya penyelamatan itu gagal karena tali pelampung terlalu pendek dan korban tidak bisa menjangkaunya. Selain itu, kondisi laut saat itu sangat menantang; ombak besar dan cuaca gelap menyulitkan koordinasi penyelamatan. Akibatnya, Suparto hilang dari pandangan kedua nelayan.
Junaedi menambahkan bahwa kondisi cuaca dan gelombang tinggi menjadi faktor utama kesulitan dalam menemukan korban. Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan tetap berjibaku di tengah laut untuk memastikan Suparto dapat di temukan secepat mungkin.
Upaya Tim SAR dan Harapan Keluarga
Pencarian hari ini melibatkan koordinasi intens antara Basarnas, BPBD Kabupaten dan Kota Pasuruan, serta Satpolair Polres Pasuruan Kota. Setiap pergerakan tim dipantau dan di arahkan berdasarkan perkembangan cuaca serta arus laut. Strategi pembagian sektor dan analisis angin ini diharapkan mampu memperbesar peluang menemukan korban dalam kondisi selamat.
Sementara itu, keluarga Suparto menunggu dengan penuh harap. Dukungan masyarakat juga terus mengalir, membantu tim SAR dalam memberikan informasi tambahan terkait kondisi perairan dan potensi lokasi korban. Tim SAR menekankan pentingnya kesabaran dan koordinasi dalam operasi pencarian ini karena faktor alam yang sangat mempengaruhi keberhasilan misi.
Kesimpulan
Pencarian Suparto menyoroti risiko tinggi yang di hadapi nelayan saat melaut sendirian. Meski tim SAR sudah bekerja maksimal dengan strategi pembagian sektor dan analisis arus serta angin, tantangan seperti gelombang tinggi dan jarak yang luas tetap menjadi hambatan. Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih fokus menemukan Suparto dan memastikan keselamatan nelayan tersebut.