Baayun Maulid menjadi salah satu tradisi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang hadir dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masyarakat menjalankan tradisi ini dengan memadukan warisan budaya lokal dan nilai-nilai Islam. Perpaduan tersebut membuat Baayun Maulid tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan adat, tetapi juga menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Tradisi yang juga masyarakat kenal dengan sebutan Baayun Maulud ini memiliki perjalanan sejarah panjang. Masyarakat Banjar tetap mempertahankannya hingga sekarang dengan menyesuaikan unsur-unsur tradisi lama terhadap ajaran Islam. Selain prosesi mengayun anak, rangkaian acaranya mencakup pembacaan doa, selawat, dan syair Maulid Nabi.

Mengenal Tradisi Baayun Maulid

Nama Baayun Maulid berasal dari dua istilah. Kata “baayun” merujuk pada kegiatan berayun atau bergelantungan. Sementara itu, kata “maulid” atau “mulud” berkaitan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat menggabungkan kebiasaan menidurkan anak menggunakan buaian dengan kegiatan keagamaan. Mereka membaca selawat, doa, serta syair pujian kepada Rasulullah SAW selama rangkaian acara berlangsung.

Islam telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Banjar selama berabad-abad. Karena itu, masyarakat tetap menjaga sejumlah warisan leluhur dengan memasukkan nilai keislaman ke dalam pelaksanaannya.

Pada masa lalu, kalangan bangsawan Banjar dan kelompok adat tertentu menjalankan upacara ini sebagai bagian dari tradisi untuk memohon perlindungan bagi anak. Mereka berharap anak terhindar dari berbagai gangguan dan penyakit.

Seiring perkembangan zaman, Baayun Maulid memiliki cakupan yang semakin luas. Berbagai lapisan masyarakat kini dapat mengikuti tradisi tersebut. Mereka juga memaknai kegiatan ini sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT serta momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tiga Akar Sejarah Baayun Maulid

Perjalanan Baayun Maulid berkaitan erat dengan perkembangan budaya dan kehidupan keagamaan masyarakat Banjar, termasuk masyarakat di Banua Halat. Sejumlah riwayat menghubungkan tradisi ini dengan tiga akar sejarah utama.

Pertama, masyarakat mengaitkannya dengan Aruh Ganal, sebuah upacara besar dalam tradisi masyarakat Dayak Kaharingan. Setelah Islam berkembang di wilayah tersebut, masyarakat memasukkan unsur keagamaan seperti pembacaan syair maulid ke dalam tradisi yang mereka jalankan.

Kedua, sejarah Baayun Maulid juga berkaitan dengan penghormatan terhadap Datu Ujung. Tokoh tersebut memiliki hubungan dengan perjalanan masuknya Islam serta pendirian Masjid Al-Mukarramah. Kemudian, masyarakat menghubungkan penghormatan tersebut dengan peringatan Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal.

Ketiga, tradisi ini menunjukkan proses akulturasi antara kepercayaan leluhur dan Islam. Masyarakat secara bertahap menyesuaikan praktik lama dengan ajaran agama. Melalui proses tersebut, Baayun Maulid berkembang menjadi media untuk mengenalkan nilai keagamaan sekaligus menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sejak usia dini.

Baayun Maulid

Foto: Tradisi Baayun Maulid di Banjar Kalimantan Selatan.

Tahapan Prosesi Baayun Maulid

Masyarakat umumnya melaksanakan Baayun Maulid di masjid. Panitia memasang sejumlah buaian secara memanjang dengan memanfaatkan pilar atau bagian penyangga bangunan sebagai tempat menggantungkan ayunan.

Masyarakat menggunakan tiga lapisan kain untuk menyusun ayunan, yaitu kain sarigading, kain kuning, dan tapih bahalai. Mereka juga menambahkan berbagai hiasan serta perlengkapan yang memiliki arti simbolis.

Prosesi biasanya berlangsung melalui tiga tahapan. Pada tahap persiapan, masyarakat bekerja bersama untuk menyiapkan ayunan, hiasan, perlengkapan, serta kebutuhan acara lainnya. Semangat gotong royong menjadi bagian penting dalam tahap ini.

Selanjutnya, peserta memasuki tahap pelaksanaan. Tokoh agama dan masyarakat membaca doa, selawat, serta syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Kegiatan keagamaan tersebut membangun suasana khidmat sepanjang acara.

Setelah itu, peserta menjalani prosesi inti Baayun Maulid. Orang tua menempatkan anak di dalam buaian lalu mengayunkannya. Tokoh agama maupun keluarga mengiringi prosesi tersebut dengan doa dan harapan baik untuk kehidupan sang anak.

Filosofi Perlengkapan dalam Ayunan

Berbagai perlengkapan dalam Baayun Maulid tidak sekadar menjadi dekorasi. Masyarakat memberikan makna filosofis pada setiap unsur yang mereka gunakan. Penelitian mengenai pelaksanaan tradisi di Desa Anjir Muara Lama mencatat adanya 14 perlengkapan utama dalam rangkaian upacara tersebut.

Tiang kayu dan tali tambang menggambarkan harapan agar anak memiliki prinsip kuat serta mampu menjalani kehidupan dengan arah yang baik. Sementara itu, tiga lapisan kain dan anyaman janur membawa simbol kesucian, harapan positif, serta kehidupan yang subur.

Masyarakat juga menggunakan kembang sarai dan ornamen berbentuk ular. Perlengkapan tersebut membawa pesan mengenai upaya membersihkan pengaruh negatif sekaligus mengingatkan manusia bahwa kehidupan memiliki perjalanan yang tidak selalu mudah.

Selain itu, ketupat dan rantai galang-galangan menggambarkan tanggung jawab moral dan kuatnya hubungan persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat. Simbol ini sekaligus menekankan pentingnya menjaga hubungan sosial antarsesama.

Masyarakat menyematkan uang logam atau uang kertas pada bagian ayunan sebagai simbol doa agar anak memperoleh kecukupan rezeki dalam kehidupannya.

Beberapa makanan tradisional juga memiliki peran simbolis. Kue cincin, apam, dan ketan membawa pesan tentang saling memaafkan, keharmonisan, dan kuatnya nilai kebaikan dalam kehidupan bersama.

Sementara itu, pisang dan piduduk menggambarkan sumber kehidupan serta harapan agar seseorang mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Makna tersebut juga memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan.

Baayun Maulid sebagai Warisan Budaya dan Keagamaan

Baayun Maulid memperlihatkan kemampuan masyarakat Banjar dalam menjaga warisan leluhur sekaligus menyesuaikannya dengan nilai-nilai Islam. Tradisi ini tidak berhenti pada kegiatan mengayun anak, tetapi juga mengandung pesan tentang rasa syukur, kebersamaan, doa, dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Gotong royong dalam mempersiapkan acara turut memperkuat hubungan sosial masyarakat. Sementara itu, pembacaan selawat dan syair maulid mempertegas unsur keagamaan yang menjadi bagian utama dalam pelaksanaannya.

Melalui Baayun Maulid, masyarakat Banjar terus meneruskan warisan budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Tradisi tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana budaya lokal dan nilai Islam dapat tumbuh berdampingan dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan.