Gubernur Jawa Barat – Dedi Mulyadi, menghadirkan pendekatan baru dalam pelaksanaan kirab Mahkota Binokasih dengan menekankan nilai-nilai budaya tradisional Sunda. Mulai tahun 2026, prosesi kirab tidak lagi menggunakan kendaraan modern seperti mobil Jeep, melainkan di kemas dalam rangkaian acara budaya yang sarat makna historis dan filosofis.
Perubahan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat identitas masyarakat Sunda. Dengan pendekatan yang lebih autentik, kirab di harapkan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih mendalam bagi masyarakat.
Awal Prosesi di Museum Geusan Ulun Sumedang
Rangkaian kegiatan di mulai melalui prosesi Binokasih Mulang Salaka yang di gelar di Museum Geusan Ulun, Sumedang. Dalam prosesi ini, Mahkota Binokasih di arak menggunakan kereta kencana, menciptakan suasana yang mencerminkan kejayaan masa lalu kerajaan Sunda.
Prosesi ini tidak hanya menjadi simbol perjalanan sejarah, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur. Penggunaan kereta kencana menggantikan kendaraan modern menambah nilai estetika dan keaslian budaya dalam kirab tersebut.
Makna Filosofis di Balik Perubahan
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa transformasi ini bertujuan untuk mengembalikan esensi budaya dalam setiap rangkaian kirab. Ia ingin masyarakat merasakan kedekatan dengan nilai-nilai leluhur yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas Sunda.
Kirab budaya ini tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda. Melalui pendekatan ini, nilai sejarah dan filosofi budaya dapat di wariskan secara lebih efektif.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebersamaan antar daerah di Jawa Barat. Setiap wilayah yang di singgahi akan turut berpartisipasi dalam menyambut kirab dengan tradisi khas masing-masing.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menunggangi kuda putih pada acara Kirab Budaya Mahkota Binokasih di Kabupaten Sumedang, Sabtu (2/5/2026).
Rute Kirab Menyusuri Delapan Daerah
Kirab Mahkota Binokasih di rancang untuk melintasi delapan kabupaten dan kota di Jawa Barat. Setelah di mulai dari Sumedang, rombongan bergerak menuju Kawali di Ciamis, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kampung Naga di Tasikmalaya.
Perjalanan berlanjut ke Cianjur, Bogor, Karawang, Depok, hingga Kabupaten Cirebon. Setiap lokasi memiliki nilai historis dan budaya yang berbeda, sehingga memperkaya makna perjalanan kirab.
Dengan rute yang luas, kirab ini di harapkan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal.
Puncak Acara di Kota Bandung
Puncak kegiatan kirab akan digelar di Bandung pada 16 Mei 2026. Pada momen tersebut, seluruh perwakilan daerah di Jawa Barat akan berkumpul dalam sebuah kirab budaya besar.
Setelah itu, acara akan di lanjutkan dengan pertunjukan kolosal budaya di Gedung Sate. Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan Milangkala Tatar Sunda yang akan di gelar secara rutin setiap tahun.
Acara tersebut tidak hanya menampilkan seni dan budaya, tetapi juga menjadi simbol persatuan masyarakat Sunda dalam menjaga warisan leluhur.
Dukungan Pemerintah Daerah
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyambut positif penyelenggaraan kirab ini. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam menghubungkan sejarah masa lalu dengan arah pembangunan masa depan.
Menurutnya, kirab Mahkota Binokasih dapat menjadi refleksi perjalanan budaya sekaligus inspirasi bagi generasi mendatang. Kegiatan ini juga berpotensi meningkatkan daya tarik wisata budaya di Jawa Barat.
Pelestarian Budaya sebagai Investasi Masa Depan
Transformasi kirab Mahkota Binokasih menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan budaya lokal. Upaya ini tidak hanya bertujuan menjaga tradisi, tetapi juga membangun identitas yang kuat di tengah arus modernisasi.
Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat di ajak untuk lebih menghargai warisan budaya sekaligus berperan aktif dalam pelestariannya. Dengan demikian, budaya Sunda dapat terus hidup dan berkembang di masa depan.
Kesimpulan
Perubahan konsep kirab Mahkota Binokasih menjadi langkah strategis dalam menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Sunda. Dengan pendekatan yang lebih tradisional dan sarat makna, kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga sarana edukasi dan penguatan identitas daerah.
Kirab yang melintasi berbagai wilayah di Jawa Barat serta puncak acara di Bandung menjadi simbol persatuan dan kebanggaan masyarakat Sunda. Upaya ini di harapkan mampu menjaga kelestarian budaya sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perkembangan sosial dan pariwisata daerah.