Sektor Wisata – Selam Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan dan menempati posisi strategis dalam pengembangan pariwisata nasional. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menegaskan bahwa diving atau wisata selam kini menjadi salah satu pilar utama dalam promosi pariwisata bahari Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Potensi Besar Wisata Selam di Segitiga Terumbu Karang Dunia

Asisten Deputi Mancanegara 1 Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Dedi Ahmad Kurnia, menyoroti posisi Indonesia yang berada di kawasan Coral Triangle atau segitiga terumbu karang dunia. Kawasan ini juga melibatkan Filipina dan wilayah Pasifik yang di kenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global.

Letak geografis tersebut membuat Indonesia memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan mancanegara, terutama penggemar aktivitas selam. Banyak operator wisata internasional bahkan menjadikan destinasi selam Indonesia sebagai produk unggulan dalam paket perjalanan mereka.

Pariwisata Sebagai Pintu Masuk Investasi dan Perdagangan

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia juga mendorong konsep Tourism, Trade, and Investment (TTI) sebagai strategi pengembangan sektor pariwisata. Konsep ini menempatkan pariwisata sebagai pintu awal yang dapat membuka peluang perdagangan dan investasi lebih luas.

Dedi Ahmad Kurnia menekankan bahwa aktivitas wisata tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga dapat menarik investor untuk mengembangkan sektor pendukung lain. Namun, ia menegaskan bahwa setiap investasi harus memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal serta menjaga kelestarian lingkungan.

Keberlanjutan Menjadi Fokus Utama Wisata Selam

Meskipun termasuk dalam kategori wisata petualangan yang menantang, sektor selam tetap mengutamakan prinsip keberlanjutan. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menekankan bahwa pertumbuhan pariwisata tidak boleh merusak ekosistem laut.

Pemerintah mendorong keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Pendekatan ini menjadikan wisata bahari bukan hanya aktivitas rekreasi, tetapi juga sarana edukasi dan konservasi laut.

Wisata

Diving Menyelam

Penguatan Keamanan Wisata Bahari di Labuan Bajo

Dalam upaya meningkatkan standar keselamatan, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menggelar program Safety Talk. Kegiatan ini berfokus pada peningkatan keamanan wisata bahari, khususnya di kawasan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan bahwa aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam seluruh aktivitas wisata, termasuk wisata laut. Pemerintah juga telah menetapkan sejumlah regulasi, seperti Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 7 Tahun 2016 tentang panduan selam rekreasi dan regulasi terbaru tahun 2025 terkait standar usaha berbasis risiko di sektor pariwisata.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Keselamatan Wisatawan

Pemerintah daerah Manggarai Barat menilai bahwa kepercayaan wisatawan sangat bergantung pada sistem keamanan yang kuat. Pemerintah, otoritas pelabuhan, aparat keamanan, serta pelaku usaha harus bekerja bersama untuk menciptakan standar keselamatan yang konsisten.

Insiden kecelakaan wisata di Labuan Bajo sebelumnya menjadi evaluasi penting untuk memperkuat koordinasi lintas sektor. Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan citra Indonesia sebagai destinasi wisata bahari yang aman dan profesional.

Penguatan Sistem Manajemen Krisis Pariwisata

Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Fadjar Hutomo, mendorong pembentukan Tim Manajemen Krisis Kepariwisataan di berbagai daerah. Langkah ini mengacu pada regulasi nasional tentang penanganan krisis pariwisata dan standar keselamatan aktivitas berisiko.

Selain itu, penyedia jasa wisata juga harus memiliki tenaga kerja bersertifikat dalam bidang pencarian dan pertolongan. Hal ini penting untuk mempercepat respons ketika terjadi keadaan darurat di destinasi wisata.

Tantangan Lapangan dalam Wisata Bahari

Pelaku industri selam menilai bahwa pengawasan dan regulasi di lapangan masih perlu penguatan. Ketua Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM), Marselinus Betong, menyoroti beberapa tantangan seperti kondisi cuaca yang cepat berubah, lokasi terpencil, serta keterbatasan sistem respons darurat.

Ia juga menekankan pentingnya pusat komando terpadu untuk menangani insiden wisata bahari secara cepat dan terstruktur.

Inovasi dan Konservasi dalam Industri Selam

Ajang DRT Show memperlihatkan perkembangan teknologi penyelaman sekaligus memperkuat kesadaran konservasi laut. CEO LX Development Group, Jason Chong, mendorong konsep blue ecosystem yang menggabungkan konservasi, perdagangan, dan edukasi secara seimbang.

Pameran ini juga menampilkan teknologi dari berbagai merek internasional serta Ocean Star Underwater Photo Gallery yang mengedepankan etika konservasi laut. Standar ketat diterapkan agar tidak ada gangguan terhadap ekosistem bawah laut.

Kesimpulan

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menempatkan wisata selam sebagai sektor strategis yang tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat konservasi lingkungan. Dengan dukungan regulasi, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi teknologi, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata selam kelas dunia yang berkelanjutan.