Pengrajin Wayang Kulit Soemarno terus menjaga denyut seni tradisional Jawa dari sebuah sanggar di kawasan Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur. Di tengah kehidupan Jakarta yang bergerak cepat, pria berusia 58 tahun asal Solo itu memilih tetap setia pada pahat, lembaran kulit, warna, serta tokoh-tokoh pewayangan yang telah menemaninya sejak muda.
Sanggar tersebut menjadi ruang bagi Soemarno untuk menghasilkan berbagai karya berbahan kulit. Selain wayang, ia juga mengerjakan lukisan dan kaligrafi. Kulit sapi, kambing, maupun kerbau yang telah melalui proses pengolahan menjadi bahan utama yang kemudian ia bentuk dengan keterampilan tangan.
Soemarno tidak sekadar mengejar keindahan visual dalam setiap karyanya. Ia memandang wayang sebagai medium yang menyimpan gambaran mengenai kehidupan manusia. Setiap karakter membawa watak, nilai moral, hingga perilaku yang dapat menjadi bahan pembelajaran.
Karena alasan itulah, aktivitas membuat wayang baginya memiliki makna lebih luas daripada pekerjaan untuk menghasilkan sebuah benda seni. Melalui keterampilan tersebut, ia ikut mempertahankan pengetahuan budaya agar masyarakat tetap mengenalnya.
Kegemaran Menggambar Membuka Jalan Soemarno Mengenal Wayang
Perjalanan pengrajin wayang kulit Soemarno bermula jauh sebelum ia mahir menggunakan berbagai jenis pahat. Ketika duduk di kelas 4 sekolah dasar, ia sudah menyukai kegiatan menggambar. Ia menikmati proses membuat gambar secara perlahan dan teliti hingga selesai.
Lingkungan keluarga kemudian membawa ketertarikannya semakin dekat dengan pewayangan. Ayahnya, Hardowikromo, merupakan seorang dalang kampung. Sang ayah memiliki pengetahuan mengenai wayang Keraton Solo sekaligus memahami hubungan silsilah berbagai tokoh dalam cerita pewayangan.
Kedekatan dengan ayah membuat Soemarno semakin penasaran. Ia mulai memperhatikan mengapa masyarakat menyukai wayang dan apa yang membuat setiap tokohnya memiliki karakter berbeda.
Dari rasa ingin tahu tersebut, Soemarno perlahan mempelajari lebih banyak hal. Ia tidak hanya menggambar bentuk wayang, tetapi juga mulai mengenali teknik tatah serta memahami sifat tokoh yang muncul dalam berbagai cerita.
Pada 1982, ketika masih berusia remaja, ia mulai mengikuti kegiatan sejumlah dalang dalam pementasan. Soemarno pernah belajar dengan mengikuti perjalanan dalang Anom Suroto dan Manteb Sudarsono.
Pengalaman tersebut memperluas keterampilannya. Ia mempelajari proses menggambar pola, menatah kulit, melakukan nyungging, hingga memberikan warna pada wayang.
Setelah menjalani proses belajar selama beberapa tahun, Soemarno mulai membuat wayang secara mandiri pada 1985. Sejak saat itu, kegemaran yang awalnya muncul melalui gambar di atas kertas berkembang menjadi profesi yang terus ia jalani hingga sekarang.
Puluhan Jenis Pahat Membentuk Detail Setiap Tokoh
Membuat wayang kulit membutuhkan rangkaian pekerjaan yang panjang. Seniman harus mempersiapkan kulit sebelum mulai membentuk karakter. Soemarno menggunakan kulit sapi atau kerbau yang sudah melalui pengolahan sehingga memiliki tingkat kelenturan yang sesuai.
Selanjutnya, ia membentangkan dan mengeringkan kulit dengan teknik tertentu. Tahapan tersebut penting karena kondisi bahan akan menentukan hasil ketika pahat mulai menyentuh permukaannya.
Setelah kulit siap, Soemarno memindahkan pola karakter ke atas bahan. Barulah ia mulai membuat detail melalui teknik tatah.
Untuk menghasilkan motif yang rumit, Soemarno memakai sekitar 30 jenis tatahan. Setiap alat membantu membentuk pola tertentu, termasuk ornamen flora dan geometris yang memiliki banyak lubang kecil.
Ketelitian memegang peranan besar pada tahap ini. Kesalahan pada satu bagian dapat membuat kulit tipis terputus sehingga merusak pola. Karena itu, Soemarno mengandalkan kesabaran sekaligus kontrol tangan ketika menggerakkan pahat.
Setelah menyelesaikan tatahan, ia membersihkan karya tersebut sebelum melanjutkan pekerjaan ke tahap nyungging atau pemberian warna. Proses pewarnaan kemudian mempertegas wajah, busana, ornamen, serta identitas masing-masing karakter.
Satu Gunungan Bisa Membutuhkan Waktu Dua Setengah Bulan
Tingkat kerumitan menentukan durasi pengerjaan setiap karya. Soemarno dapat menyelesaikan beberapa tokoh dalam waktu lebih singkat, tetapi karya dengan detail tinggi membutuhkan proses jauh lebih panjang.
Gunungan termasuk karya yang paling menyita waktu. Banyaknya ornamen dan lubang pada permukaan membuat Soemarno harus bekerja secara hati-hati. Ia membutuhkan waktu sekitar dua setengah bulan untuk menyelesaikan satu Gunungan.
Sementara itu, tokoh-tokoh Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong memiliki waktu pengerjaan yang relatif lebih singkat.
Namun, Soemarno tidak menilai sebuah wayang hanya berdasarkan lama pembuatannya. Menurutnya, detail pada bentuk tokoh juga membawa pesan mengenai karakter yang ingin seniman tampilkan.
Dengan demikian, setiap goresan gambar, lubang hasil tatahan, hingga kombinasi warna memiliki peran dalam membangun identitas tokoh.

Pak Soemarno (58) seorang pengrajin wayang kulit asal Solo yang mempertahankan budaya Jawa di Jakarta.
Wayang Menjadi Gambaran Beragam Watak Manusia
Puluhan tahun berinteraksi dengan dunia pewayangan membuat Soemarno melihat wayang dari sudut pandang yang semakin luas. Ia memahami setiap karakter sebagai representasi berbagai perilaku manusia.
Menurutnya, kehidupan menghadirkan orang dengan sifat berbeda. Ada manusia yang suka menolong secara tulus, tetapi ada pula yang mengharapkan keuntungan ketika membantu orang lain. Begitu juga dengan kecerdasan. Seseorang dapat menggunakan kepandaiannya untuk kebaikan atau justru memanfaatkan kemampuan tersebut demi memperdaya pihak lain.
Soemarno melihat gambaran itu pada karakter seperti Sengkuni dan Durna. Kedua tokoh tersebut memiliki kecerdikan, tetapi kepandaian mereka dapat mengarah pada tindakan yang merugikan orang lain.
Sebaliknya, ia menaruh perhatian besar kepada Kresna dan Semar sebagai contoh karakter yang memberikan pelajaran berbeda.
Bagi Soemarno, Kresna menggambarkan kecerdikan yang berjalan bersama kebijaksanaan tanpa kesombongan. Sementara itu, Semar menunjukkan figur penasihat yang mengutamakan kebaikan dan tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama.
Nilai semacam inilah yang membuat pewayangan tetap relevan menurut Soemarno. Cerita boleh berasal dari tradisi lama, tetapi persoalan tentang keserakahan, kebijaksanaan, ketulusan, kecerdikan, dan moralitas tetap hadir dalam kehidupan masyarakat modern.
Ratusan Karakter Membuat Proses Belajar Tidak Pernah Berakhir
Dunia pewayangan memiliki jumlah karakter yang sangat banyak. Soemarno memperkirakan terdapat sekitar 225 hingga 250 nama tokoh.
Jumlah tersebut membuat proses mengenali karakter membutuhkan waktu panjang. Bahkan setelah menggeluti wayang selama puluhan tahun, ia mengakui masih belum menghafal seluruh nama beserta sifatnya.
Tokoh-tokoh utama seperti kelompok Kurawa dan Pandawa Lima mungkin lebih mudah masyarakat kenali. Namun, masih banyak karakter lain dengan latar belakang, hubungan keluarga, dan watak masing-masing.
Kondisi tersebut justru membuat Soemarno terus belajar. Usia yang telah melewati setengah abad tidak menghentikan keinginannya untuk mendalami dunia yang ia pilih sejak remaja.
Baginya, memahami wayang berarti mempelajari bukan hanya bentuk fisiknya, melainkan juga cerita serta pesan yang mengikuti setiap karakter.
Soemarno Ingin Generasi Muda Meneruskan Keterampilan Menatah
Soemarno memahami bahwa pelestarian budaya membutuhkan regenerasi. Karena itu, ia berusaha membagikan keterampilan yang telah ia kuasai kepada anggota keluarga.
Ia pernah mengajari keponakan-keponakannya yang ketika itu belum menyelesaikan pendidikan SMA. Mereka belajar menatah sekaligus melakukan proses nyungging.
Minat terhadap seni tersebut juga muncul pada anak keduanya. Sejak kelas 4 SD, anak Soemarno telah menunjukkan ketertarikan terhadap aktivitas menggambar dan mewarnai wayang.
Menurut Soemarno, seseorang tidak dapat menguasai keterampilan tersebut hanya dengan mengamati pekerjaan orang lain. Kemauan, niat, latihan, dan ketekunan menjadi unsur penting agar tangan terbiasa mengendalikan alat serta memahami karakter bahan.
Karena itu, ia berharap generasi muda tidak hanya melihat wayang sebagai peninggalan masa lalu. Mereka juga perlu mengenali cerita, teknik pembuatan, serta nilai kehidupan yang tersimpan di balik setiap tokoh.
Soemarno turut mengingatkan anak muda agar tidak hanya sibuk mengejar kebudayaan dari luar. Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang sangat luas dan masih menyediakan banyak ruang untuk dipelajari.
Menjaga Wayang agar Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman
Perjalanan panjang Soemarno menunjukkan bagaimana sebuah kegemaran masa kecil dapat berkembang menjadi jalan hidup. Dari seorang anak yang gemar menggambar, ia tumbuh menjadi pengrajin yang memahami teknik sekaligus filosofi pewayangan.
Kini, setiap kali pahat bergerak di atas kulit, Soemarno tidak sekadar menciptakan benda seni. Ia meneruskan pengetahuan yang dahulu ia peroleh dari ayahnya serta para seniman dan dalang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan belajarnya.
Baginya, wayang menyimpan gambaran mengenai sifat dan akhlak manusia. Pesan tersebut membuat kesenian ini tetap memiliki hubungan dengan kehidupan masa kini meskipun masyarakat terus berubah.
Tantangan terbesar selanjutnya terletak pada keberlanjutan. Keterampilan menatah, menyungging, memahami karakter, dan membaca filosofi pewayangan membutuhkan orang-orang baru yang bersedia belajar.
Selama generasi berikutnya masih memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk memegang pahat, perjalanan wayang tidak akan berhenti pada generasi Soemarno. Tradisi itu dapat terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Bagi Soemarno, menjaga wayang pada akhirnya berarti menjaga ingatan tentang manusia sekaligus identitas budaya Indonesia. Ia ingin masyarakat, terutama generasi muda, tetap memiliki hubungan dengan warisan budaya sendiri di tengah derasnya pengaruh budaya global.