Suasana Senja Di Mataram – Menghadirkan aktivitas yang semakin padat ketika Ramadan memasuki hari-hari terakhir. Arus kendaraan bergerak perlahan di kawasan Jalan Langko, sementara warga menyelesaikan pekerjaan atau mempersiapkan kebutuhan menjelang Idul Fitri.
Di tengah kepadatan tersebut, sejumlah pemandangan sosial menarik perhatian masyarakat. Beberapa individu dengan tubuh berlapis cat metalik, yang sering dikenal sebagai manusia silver, berdiri di persimpangan jalan sambil membawa kotak untuk meminta uang dari pengendara. Pada trotoar di sekitar lokasi, terlihat pula ibu bersama anak kecil yang menunggu uluran tangan dari pengguna jalan.
Selain itu, kelompok remaja terlihat berjalan dari satu titik ke titik lain dengan harapan memperoleh bantuan dari masyarakat. Fenomena ini muncul secara konsisten ketika Ramadan mendekati hari raya. Kehadiran pengemis, anak jalanan, serta kelompok rentan lainnya membentuk pola sosial musiman yang berulang setiap tahun.
Meningkatnya Aktivitas PMKS Menjelang Lebaran
Pemerintah daerah melalui berbagai instansi sosial terus memantau perkembangan fenomena tersebut. Data dari Pemerintah Kota Mataram menunjukkan peningkatan aktivitas kelompok Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) menjelang Lebaran.
Instansi terkait, termasuk Dinas Sosial Kota Mataram, mencatat kemunculan lebih banyak anak jalanan, pengemis, serta gelandangan di sejumlah titik strategis kota. Petugas juga menemukan indikasi mobilisasi individu dari luar daerah yang datang ke Mataram untuk mencari sedekah di kawasan ramai.
Beberapa lokasi menjadi pusat aktivitas kelompok tersebut, seperti Jalan Udayana, kawasan Panjitilar, Jalan Pendidikan, serta Jalan Langko. Satgas sosial kemudian meningkatkan patroli secara intensif untuk memantau kegiatan di lokasi tersebut.
Petugas bahkan memperpanjang jam kerja hingga dini hari guna menjaga ketertiban kota. Meskipun demikian, pola kemunculan PMKS yang bersifat musiman tetap menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah.

Sejumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) menjelang Idul Fitri berkumpul menunggu sedekah di ruas Jalan Langko Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Faktor Ekonomi dan Strategi Bertahan Hidup
Kemunculan PMKS tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ramadan dan menjelang Lebaran memang menghadirkan budaya berbagi yang kuat di masyarakat Indonesia. Tradisi sedekah mendorong banyak orang untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
Namun, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil setelah pandemi turut memengaruhi dinamika tersebut. Banyak masyarakat menghadapi keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal dan penghasilan yang layak.
Dalam situasi seperti itu, sebagian individu memilih cara pragmatis untuk memperoleh penghasilan dengan meminta bantuan di jalan. Dari perspektif ekonomi perilaku, strategi ini mencerminkan upaya bertahan hidup dalam kondisi keterbatasan.
Meskipun demikian, pendekatan tersebut tidak selalu memberikan solusi jangka panjang. Aktivitas meminta-minta di jalan dapat membentuk pola ekonomi informal yang bergantung pada belas kasihan masyarakat.
Dilema Sosial dalam Praktik Sedekah
Fenomena PMKS juga memunculkan dilema moral di kalangan masyarakat. Banyak warga merasa bahwa memberi uang atau makanan kepada pengemis merupakan bentuk solidaritas sosial.
Namun, sebagian pihak menilai praktik tersebut tidak menyelesaikan akar permasalahan. Tanpa intervensi pendidikan, pelatihan, dan pemberdayaan ekonomi, pemberian bantuan secara spontan justru berpotensi memperkuat ketergantungan.
Dalam beberapa kasus, individu yang meminta bantuan bahkan menampilkan situasi dramatis untuk menarik simpati masyarakat. Contohnya terlihat pada seorang ibu muda yang duduk di tepi jalan sambil menggendong bayi yang tertidur. Pemandangan tersebut memicu empati sekaligus memunculkan pertanyaan kritis mengenai kondisi yang sebenarnya terjadi.
Situasi seperti ini mendorong diskusi lebih luas mengenai cara masyarakat menyalurkan bantuan sosial secara lebih efektif.
Upaya Penertiban dan Program Pembinaan
Pemerintah daerah terus melakukan langkah penertiban guna menjaga ketertiban umum. Namun, penertiban saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah yang bersifat struktural.
Oleh karena itu, pemerintah juga merancang berbagai program pembinaan bagi kelompok PMKS. Salah satu rencana yang muncul adalah pembangunan rumah singgah yang dapat menjadi tempat penampungan sementara.
Melalui fasilitas tersebut, individu yang sebelumnya hidup di jalan dapat memperoleh pembinaan sosial serta pelatihan keterampilan. Pemerintah daerah juga merancang program pelatihan kerja seperti pelatihan barista dan servis pendingin ruangan.
Pelatihan tersebut bertujuan memberikan keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Dengan keterampilan tersebut, peserta program memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan yang lebih stabil.
Pentingnya Kebijakan Sosial yang Komprehensif
Fenomena PMKS musiman di Mataram tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan ketertiban kota. Kondisi tersebut mencerminkan tantangan dalam sistem kesejahteraan sosial yang lebih luas.
Pemerintah perlu memperkuat basis data kesejahteraan sosial melalui sistem seperti Data Terpadu Kesejahteraan Sosial agar penanganan masyarakat rentan dapat berjalan lebih tepat sasaran.
Selain itu, pemerintah juga perlu memperluas kerja sama dengan sektor swasta untuk menyediakan pelatihan kerja yang relevan dengan kebutuhan industri. Dukungan modal usaha serta akses ke pasar kerja formal juga menjadi faktor penting dalam proses reintegrasi sosial.
Edukasi publik juga memiliki peran strategis dalam mengubah pola pemberian bantuan. Kampanye sosial dapat mengarahkan masyarakat untuk menyalurkan sedekah melalui program pemberdayaan yang lebih berkelanjutan.
Menuju Pendekatan Kesejahteraan yang Berkelanjutan
Fenomena PMKS musiman bukan sekadar dinamika sosial yang muncul setiap Ramadan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya reformasi kebijakan kesejahteraan sosial yang lebih komprehensif.
Pendekatan yang menggabungkan penertiban, pelatihan kerja, pemberdayaan ekonomi, serta edukasi publik dapat menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan. Melalui langkah tersebut, masyarakat tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi juga membuka peluang bagi kelompok rentan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.
Dengan pendekatan kebijakan yang terintegrasi, Kota Mataram dapat memperkuat sistem perlindungan sosial sekaligus menjaga nilai solidaritas yang menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Indonesia.