Wawasan24.com – Pembangunan infrastruktur sejatinya bertujuan meningkatkan konektivitas sekaligus mendukung aktivitas masyarakat. Namun, manfaat tersebut sulit di rasakan apabila hasil pembangunan mengalami kerusakan dalam waktu singkat. Kondisi seperti inilah yang terjadi di Gazipur, Bangladesh, ketika sebuah jalan yang baru selesai di bangun mengalami ambrol sebelum sempat di gunakan secara resmi.
Insiden tersebut menjadi perhatian publik karena proyek yang menelan anggaran cukup besar itu mengalami kerusakan hanya beberapa hari setelah proses konstruksi di nyatakan selesai. Peristiwa ini memunculkan berbagai pertanyaan mengenai ketahanan bangunan, faktor lingkungan, hingga kualitas pelaksanaan proyek.
Jalan Baru di Gazipur Ambrol Hanya Beberapa Hari Setelah Rampung
Sebuah ruas jalan yang berada di kawasan Dhananjaykhali, Kashimpur, Kota Gazipur, Bangladesh, di laporkan mengalami kerusakan serius meski belum di resmikan. Infrastruktur tersebut di bangun dengan nilai proyek sekitar 11,67 crore taka atau setara kurang lebih Rp17,15 miliar.
Menurut laporan media setempat, kerusakan mulai terjadi sembilan hari setelah pekerjaan konstruksi selesai. Bagian jalan yang berada di sisi Sungai Turag mengalami longsor sehingga memicu kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan akses tersebut.
Pada tahap awal, area yang ambruk di perkirakan memiliki panjang sekitar tiga hingga hampir empat meter. Akan tetapi, kondisi itu tidak berhenti sampai di sana. Dalam waktu singkat, kerusakan terus meluas sehingga memperbesar risiko terhadap bagian jalan lainnya.
Ruas jalan tersebut memiliki panjang sekitar tiga kilometer dan berfungsi menghubungkan kawasan Kashimpur Nama Bazar dengan Desa Dhandakhali. Kehadiran jalan ini di harapkan dapat memperlancar mobilitas warga sekaligus menunjang aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Retakan Muncul Sebelum Struktur Jalan Runtuh
Berdasarkan keterangan warga sekitar, tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terlihat sebelum jalan mengalami ambrol. Retakan mulai muncul pada permukaan jalan beberapa hari sebelumnya sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat.
Tidak lama kemudian, sebagian badan jalan di sisi sungai runtuh. Dalam kurun waktu sekitar dua hari, area yang terdampak terus bertambah luas.
Salah seorang warga Desa Kashimpur Barinda menjelaskan bahwa kerusakan awal hanya terjadi pada sebagian kecil ruas jalan. Namun, setelah itu, bagian lain kembali longsor sehingga total panjang jalan yang terdampak di perkirakan mencapai sekitar enam meter.
Perkembangan kerusakan yang berlangsung relatif cepat membuat masyarakat khawatir kondisi serupa akan terus berlanjut apabila tidak segera dilakukan penanganan.

Sebuah jalan yang baru selesai dibangun di Gazipur, Bangladesh, ambrol sebagian sebelum sempat diresmikan pada Februari 2026.
Kekhawatiran Warga Terhadap Keselamatan dan Aktivitas Harian
Ambrolnya jalan tidak hanya berdampak pada kondisi fisik infrastruktur, tetapi juga memengaruhi aktivitas masyarakat sekitar. Warga mengaku cemas apabila longsoran terus meluas hingga menyebabkan badan jalan jatuh ke Sungai Turag.
Selain itu, akses yang biasa di gunakan masyarakat menjadi terganggu. Pelajar yang setiap hari menuju Kashimpur High School maupun Dhandakhali Government Primary School ikut merasakan dampaknya karena perjalanan menuju sekolah menjadi kurang aman.
Situasi tersebut mendorong masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan agar kerusakan tidak semakin meluas dan keselamatan pengguna jalan tetap terjaga.
Proyek Bernilai Rp17,15 Miliar Dibangun dalam Dua Tahap
Pemerintah Kota Gazipur melalui Gazipur City Corporation (GCC) menjadi pihak yang mendanai pembangunan jalan tersebut. Proyek kemudian di laksanakan oleh perusahaan kontraktor UCCL setelah memperoleh surat perintah kerja resmi.
Pelaksanaan pembangunan di bagi menjadi dua paket pekerjaan. Secara keseluruhan, proyek mencakup pembangunan jalan sepanjang sekitar tiga kilometer beserta berbagai fasilitas pendukung.
Fasilitas tersebut meliputi lapisan water-bound macadam (WBM) sepanjang sekitar 250 meter sebagai bagian dari fondasi jalan. Setelah itu, permukaan jalan di lapisi aspal dengan ketebalan sekitar 60 milimeter menggunakan metode bituminous carpeting.
Selain badan jalan, proyek juga mencakup pembangunan trotoar selebar sekitar 1,8 meter, pemasangan pagar pembatas, serta pembangunan dinding pelindung di beberapa titik. Infrastruktur pendukung tersebut di rancang untuk meningkatkan keamanan sekaligus kenyamanan pengguna jalan.
Namun demikian, sebelum seluruh fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara resmi, sebagian ruas jalan justru mengalami kerusakan di area yang berbatasan langsung dengan sungai.
Pemerintah Sebut Faktor Alam Jadi Penyebab
Menanggapi insiden tersebut, pihak Gazipur City Corporation menyampaikan bahwa kerusakan di duga di picu oleh faktor alam.
Superintendent Engineer sekaligus Project Director GCC, AKM Harunur Rashid, menjelaskan bahwa bagian jalan yang berada di tepi Sungai Turag mengalami longsor akibat kondisi alam yang terjadi di lokasi.
Ia juga mengungkapkan telah melakukan peninjauan langsung ke area yang terdampak. Hasil pemeriksaan di lapangan selanjutnya di sampaikan kepada Chief Executive Officer GCC sebagai bahan evaluasi sekaligus tindak lanjut terhadap kerusakan yang terjadi.
Meski demikian, insiden ini tetap menjadi perhatian masyarakat karena proyek bernilai miliaran rupiah tersebut mengalami kerusakan hanya dalam hitungan hari setelah pekerjaan konstruksi di nyatakan selesai. Ke depan, evaluasi terhadap aspek perencanaan, metode pembangunan, hingga kondisi geografis di sekitar Sungai Turag di perkirakan menjadi bagian penting untuk mencegah kejadian serupa pada proyek infrastruktur lainnya.