Merti Desa Ngrajek di Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, menghadirkan tradisi yang menarik perhatian masyarakat pada Minggu, 30 Agustus 2026. Warga tidak hanya membawa hasil pertanian dalam kirab budaya, tetapi juga menyusun berbagai jenis ikan menjadi gunungan yang kemudian mereka bagikan kepada masyarakat.
Tradisi tersebut sekaligus menunjukkan karakter Desa Ngrajek sebagai salah satu wilayah yang memiliki aktivitas perikanan cukup kuat. Sekitar 60 persen masyarakat setempat menggantungkan mata pencaharian pada sektor budidaya ikan. Karena itu, warga menjadikan ikan sebagai salah satu unsur utama dalam perayaan Merti Desa.
Panitia mengemas ikan dalam plastik sebelum menyusunnya hingga membentuk gunungan. Beragam jenis ikan mengisi susunan tersebut, mulai dari koi, nila, mujair, tawes, hingga jenis lainnya. Selain gunungan ikan, setiap dusun juga membawa gunungan hasil pertanian yang berisi berbagai komoditas, terutama sayuran.
Kirab Gunungan Mengelilingi Desa Ngrajek
Desa Ngrajek memiliki enam dusun. Dalam perayaan tahun ini, pemerintah desa meminta masing-masing dusun membuat dua gunungan. Setiap dusun membawa satu gunungan hasil pertanian dan satu gunungan ikan.
Rombongan kemudian membawa gunungan tersebut dalam kirab sejauh kurang lebih satu kilometer. Peserta memulai perjalanan dari kawasan dusun yang berbatasan langsung dengan Desa Menayu, Kecamatan Muntilan. Selanjutnya, kirab berakhir di kawasan Lepen Sumong yang selama ini menjadi lokasi aktivitas pelaku UMKM Desa Ngrajek.
Secara keseluruhan, rangkaian acara menghadirkan sekitar 13 gunungan. Jumlah tersebut mencakup enam gunungan ikan serta tujuh gunungan hasil bumi.
Kehadiran gunungan ikan memberikan ciri tersendiri bagi Merti Desa Ngrajek. Jika banyak daerah identik dengan gunungan sayur, buah, atau hasil pertanian, masyarakat Ngrajek memilih menonjolkan potensi perikanan yang telah lama berkembang di wilayah mereka.
Perikanan Menjadi Identitas Desa Ngrajek
Kepala Desa Ngrajek Muhammad Riqzi Kurniawan menjelaskan bahwa sektor perikanan memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Menurutnya, sekitar 60 persen warga bekerja sebagai petani ikan.
Selain itu, Desa Ngrajek pernah memiliki Balai Benih Ikan (BBI) yang termasuk terbesar di Jawa Tengah. Fasilitas tersebut masih berada di wilayah desa hingga sekarang.
Latar belakang itulah yang mendorong pemerintah desa dan masyarakat menghadirkan gunungan ikan dalam festival budaya. Setelah kirab selesai, warga membagikan ikan kepada masyarakat Desa Ngrajek maupun penduduk dari desa sekitar.
Melalui konsep tersebut, masyarakat tidak sekadar menggelar kegiatan budaya. Mereka juga memperkenalkan potensi ekonomi lokal sekaligus menunjukkan besarnya peran perikanan dalam kehidupan warga.
Sementara itu, gunungan hasil pertanian menampilkan berbagai komoditas yang masyarakat tanam. Sayuran seperti tomat, terong, dan sawi menjadi bagian dari hasil bumi yang ikut memeriahkan acara.

Suasana rebutan gunungan ikan yang berlangsung dalam rangkaian Merti Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Minggu (30/8/2026).
Merti Desa Berlangsung Selama Dua Hari
Masyarakat menjalankan rangkaian Merti Desa Ngrajek selama dua hari, yakni Sabtu, 29 Agustus 2026, dan Minggu, 30 Agustus 2026. Pada hari pertama, warga mengadakan kegiatan rawat ruwat di sumber mata air Tuk Wudal.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas keberadaan sumber air yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Air dari sumber tersebut memiliki fungsi penting bagi warga. Masyarakat memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak dan mencuci. Selain itu, petani menggunakan air untuk mengairi lahan pertanian serta kolam budidaya ikan.
Pada hari kedua, masyarakat melanjutkan kegiatan dengan festival budaya serta kirab gunungan hasil pertanian dan perikanan. Rangkaian itu menjadi puncak kemeriahan Merti Desa Ngrajek.
Dengan demikian, perayaan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Masyarakat juga menjadikannya sebagai sarana untuk menjaga tradisi, memperkuat kebersamaan, serta mengingat pentingnya sumber daya alam bagi kehidupan desa.
Warga Antusias Berebut Gunungan Ikan
Suasana semakin meriah ketika rombongan kirab mencapai lokasi akhir di Lepen Sumong. Warga segera mendekati deretan gunungan yang sebelumnya telah mengelilingi desa. Mereka antusias menunggu kesempatan mendapatkan ikan maupun hasil pertanian.
Muhammad Kurniawan Trisaputra, remaja berusia 16 tahun asal Desa Rambeanak, ikut merasakan keseruan tersebut. Ia berhasil membawa pulang delapan plastik ikan, termasuk ikan koi.
Lastri, warga Ngrajek berusia 64 tahun, juga memperoleh beberapa bungkus ikan. Ia mendapatkan lima plastik berisi ikan, termasuk mujair, dari persediaan yang belum sempat masuk ke susunan gunungan. Lastri berencana memberikan ikan tersebut kepada cucunya.
Antusiasme serupa datang dari Siti, warga Rambeanak berusia 47 tahun. Ia ikut berdesakan bersama warga lain dan berhasil mendapatkan ikan mujair, koi, serta sejumlah sayuran seperti tomat, terong, dan sawi.
Tradisi Budaya Sekaligus Mengenalkan Potensi Desa
Keunikan gunungan ikan membuat Merti Desa Ngrajek memiliki identitas yang berbeda. Masyarakat mengangkat komoditas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian utama dari tradisi budaya.
Selain menjaga warisan tradisi, kegiatan tersebut memperlihatkan hubungan masyarakat dengan sumber mata air, sektor pertanian, dan budidaya ikan. Ketiga unsur itu selama ini berperan penting dalam menopang kehidupan ekonomi warga Desa Ngrajek.
Merti Desa Ngrajek juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat kebersamaan. Warga dari berbagai dusun terlibat dalam persiapan gunungan, kirab budaya, hingga pembagian hasil pertanian dan ikan.
Melalui gunungan ikan yang menjadi daya tarik utama, Desa Ngrajek berhasil menampilkan karakter lokal dalam sebuah perayaan budaya. Tradisi tersebut sekaligus menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas sumber daya alam dan mata pencaharian yang terus mendukung kehidupan mereka.