Tari Bedhaya Ullen Sentalu menjadi karya budaya terbaru dari Yayasan Ulating Blencong Yogyakarta yang menghadirkan perpaduan seni tari, filosofi Jawa, serta hubungan manusia dengan alam. Pertunjukan ini tampil sebagai bagian dari rangkaian karya tari yang mengangkat nilai kebijaksanaan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Yayasan Ulating Blencong memperkenalkan dua karya tari utama, yaitu Serimpi Sayidan dan Bedhaya Ullen Sentalu. Kedua karya tersebut lahir dari proses panjang selama 25 tahun dan membawa gagasan tentang keterhubungan manusia dengan lingkungan sekitar, terutama Gunung Merapi sebagai simbol energi dan kehidupan.

Pementasan Serimpi Sayidan berlangsung perdana pada Rabu (22/7/2026) di Ndalem Kaswargan Sayidan. Sementara itu, Tari Bedhaya Ullen Sentalu tampil pada Kamis (23/7/2026) di Pelataran Tawang Turgo, Museum Ullen Sentalu.

Pagelaran tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan undangan penting. Pendiri Museum Ullen Sentalu, dr. Samuel Johny Haryono Wedyadiningrat, Sp.B (K) Onk, turut hadir bersama Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, serta perwakilan masyarakat sekitar.

Pementasan Bedhaya Ullen Sentalu Menggabungkan Seni dan Tradisi Jawa

Sebelum penonton menyaksikan Tari Bedhaya Ullen Sentalu sebagai pertunjukan utama, penyelenggara menghadirkan berbagai pertunjukan seni pendukung. Rangkaian acara tersebut menampilkan dalang muda Ki Brendy yang merupakan putra dari seniman sekaligus pelawak senior Yogyakarta, Rabiyes.

Selain pertunjukan wayang, acara tersebut juga menghadirkan dua tarian tradisional Jawa, yaitu Tari Nyawiji dan Tari Jaran Kore. Kedua tarian itu memberikan warna berbeda sebelum pementasan utama dimulai.

Tari Bedhaya Ullen Sentalu menampilkan tujuh penari perempuan yang membawa simbol perjalanan spiritual manusia. Jumlah tujuh penari tersebut menggambarkan unsur api Gunung Merapi yang memiliki makna sebagai energi, perubahan, dan kekuatan kehidupan.

Karya ini tidak hanya menampilkan keindahan gerak tari, tetapi juga menyampaikan pesan mengenai hubungan manusia dengan alam. Para penari menggambarkan perjalanan api yang berasal dari kekuatan alam hingga berubah menjadi cahaya yang memberikan penerangan bagi kehidupan.

Konsep tersebut berkaitan erat dengan makna blencong dalam tradisi wayang kulit. Dalam pertunjukan wayang, blencong menjadi sumber cahaya yang membantu menghadirkan bayangan di layar. Namun, fungsi blencong tidak hanya sebatas penerangan karena masyarakat Jawa juga memandangnya sebagai simbol perjalanan moral dan refleksi kehidupan manusia.

Tari Bedhaya Ullen Sentalu

Bedhaya Ullen Sentalu.

Filosofi Cahaya Blencong dalam Tari Bedhaya Ullen Sentalu

Nama Ulating Blencong memiliki kaitan erat dengan gagasan tentang gerak api yang menyala. Kata “ulating” menggambarkan pergerakan dan gestur cahaya api yang terus hidup. Dalam karya ini, energi Gunung Merapi menjadi inspirasi utama yang kemudian diterjemahkan melalui gerakan tujuh penari.

Api tersebut tidak hanya menggambarkan kekuatan alam, tetapi juga perubahan menuju sumber kebijaksanaan. Cahaya blencong menjadi simbol tuntunan yang membantu manusia memahami kehidupan, perilaku, serta hubungan dengan lingkungan.

Tari Bedhaya Ullen Sentalu juga membawa konsep “sejatine” yang mengingatkan bahwa manusia bukan penguasa alam. Manusia menjadi bagian dari ekosistem yang memiliki kewajiban menjaga keseimbangan antara alam, kehidupan, dan nilai-nilai leluhur.

Selain itu, konsep “lumaku” menjadi bagian penting dalam pesan tarian ini. Istilah tersebut menggambarkan perjalanan hidup manusia yang terus bergerak dan mengalami perubahan. Melalui simbol Gunung Merapi, karya ini mengajarkan bahwa manusia harus menggunakan kekuatan yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab.

Nilai tersebut selaras dengan pandangan masyarakat Jawa yang menempatkan manusia sebagai penjaga keseimbangan. Melalui cahaya blencong dalam kisah pewayangan, Tari Bedhaya Ullen Sentalu mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan, merawat budaya, serta menghormati peninggalan leluhur.

Upaya Melestarikan Budaya Melalui Karya Tari Baru

Tari Bedhaya Ullen Sentalu menjadi bagian dari rangkaian Syukuran Wiwitan Balai Kaswargan yang berlangsung di kawasan Sayidan. Acara tersebut di awali dengan penampilan Tari Serimpi Sayidan pada 22 Juli 2026, kemudian berlanjut dengan pementasan Bedhaya Ullen Sentalu sebagai acara puncak.

Pendiri Museum Ullen Sentalu sekaligus penggagas kegiatan, dr. Samuel Johny Haryono, menjelaskan bahwa pagelaran tersebut menjadi bentuk usaha untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dapat di teruskan oleh generasi berikutnya.

Menurut Samuel, masyarakat memiliki peran sebagai penerus warisan budaya. Karena itu, kegiatan seni seperti Tari Bedhaya Ullen Sentalu menjadi ruang untuk menghubungkan nilai masa lalu dengan kehidupan masa kini.

Selain menjaga tradisi, rangkaian acara tersebut juga mendukung pengembangan Kampung Sayidan sebagai kawasan wisata budaya. Penyelenggara berharap kegiatan seni dapat memperkenalkan potensi lokal sekaligus meningkatkan daya tarik wisata Yogyakarta.

Melalui Tari Bedhaya Ullen Sentalu, Yayasan Ulating Blencong tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan budaya. Karya ini menjadi pengingat bahwa warisan leluhur perlu terus di rawat agar tetap memiliki makna bagi generasi mendatang.