Tradisi Menuba Hulu Arut kembali menghidupkan suasana tepian Sungai Arut di Desa Riam, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Senin (24/8/2026). Masyarakat berkumpul untuk menjalankan warisan leluhur yang tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mencari ikan, tetapi juga menyimpan nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam.
Sejak kegiatan dimulai, suara tumbukan akar tuba terdengar bersahutan di kawasan Hulu Sungai Arut. Warga menumbuk akar tersebut sampai halus sebelum mencampurkan dan melepaskan larutannya ke aliran sungai.
Setelah proses itu selesai, masyarakat mulai bergerak menyusuri tepian sungai. Mereka menunggu ikan muncul ke permukaan sambil mengikuti rangkaian tradisi yang telah masyarakat setempat pertahankan dari generasi ke generasi.
Ribuan Warga Meramaikan Tradisi Menuba Hulu Arut
Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya warga yang menghadiri kegiatan tersebut. Lebih dari 800 orang berkumpul di salah satu teluk sungai. Sementara itu, ratusan warga lainnya menyebar di berbagai lokasi dari bagian hulu hingga hilir.
Peserta tidak hanya berasal dari Desa Riam maupun permukiman di sekitar Kecamatan Arut Utara. Sejumlah masyarakat dari luar wilayah juga datang, termasuk warga Kabupaten Lamandau.
Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa Tradisi Menuba Hulu Arut masih memiliki daya tarik kuat. Masyarakat dapat menyaksikan secara langsung bagaimana warga setempat mempertahankan budaya yang mempunyai hubungan erat dengan sungai dan kehidupan sosial mereka.
Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah turut menghadiri kegiatan bersama Wakil Bupati serta jajaran kepala Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD). Kehadiran pemerintah daerah sekaligus menunjukkan perhatian terhadap tradisi masyarakat yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.
Menuba Tidak Sekadar Kegiatan Menangkap Ikan
Bagi masyarakat Hulu Arut, Menuba mempunyai arti yang lebih luas daripada kegiatan mencari hasil sungai. Tradisi ini membuka ruang bagi masyarakat untuk bertemu, bekerja bersama, sekaligus memperkuat hubungan persaudaraan.
Suasana semakin ramai ketika ikan mulai muncul ke permukaan air. Warga kemudian bergerak menangkap berbagai jenis ikan yang hidup di sungai tersebut.
Beberapa jenis ikan yang mereka dapatkan antara lain baung, lais, tapah, hingga belida. Namun, hasil tangkapan bukan satu-satunya hal yang membuat masyarakat mempertahankan tradisi ini.
Menuba juga membawa semangat gotong royong. Masyarakat dari berbagai kelompok usia dapat berkumpul dalam satu kegiatan sekaligus menjaga hubungan sosial yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.
Karena itu, tradisi tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Hulu Arut. Mereka tidak hanya menjaga sebuah kebiasaan lama, tetapi juga meneruskan nilai sosial yang terkandung di dalamnya kepada generasi berikutnya.

Menuba, tradisi leluhur yang hingga kini masih hidup dan dijaga masyarakat Hulu.
Menuba Membawa Harapan di Tengah Kemarau Panjang
Pelaksanaan Tradisi Menuba Hulu Arut pada 2026 memiliki makna khusus. Masyarakat menggelar kegiatan tersebut ketika Kalimantan Tengah, termasuk beberapa kawasan Kotawaringin Barat, menghadapi kemarau panjang.
Musim kering membawa dampak bagi kehidupan masyarakat dan kondisi lingkungan. Kekeringan terjadi di sejumlah wilayah, sedangkan risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla terus menjadi ancaman.
Situasi tersebut membuat masyarakat membawa harapan lain dalam pelaksanaan Menuba. Selain memperoleh ikan dan menjaga warisan budaya, warga menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari ikhtiar bersama agar hujan segera turun.
Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi hajat bersama sekaligus sarana untuk mengangkat budaya dan kearifan lokal masyarakat.
“Kegiatan ini ikhtiar bersama sebagai salah satu hajat, juga mengangkat kearifan lokal dan budaya. Kita memiliki satu tujuan dan keinginan bersama,” kata Nurhidayah.
Menurut Nurhidayah, kemarau panjang telah menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari kekeringan hingga ancaman karhutla di beberapa kawasan. Oleh sebab itu, masyarakat juga membawa doa dan harapan agar kondisi alam segera membaik.
“Kita tetap berusaha sebagai manusia,” ujarnya.
Menjaga Warisan Leluhur dan Hubungan dengan Alam
Sepanjang kegiatan berlangsung, Hulu Sungai Arut menjadi ruang pertemuan antara manusia, budaya, dan lingkungan. Masyarakat menumbuk akar tuba, menyusuri aliran sungai, menangkap ikan, serta berinteraksi satu sama lain dalam suasana kebersamaan.
Tradisi tersebut sekaligus menggambarkan kuatnya hubungan masyarakat Hulu Arut dengan lingkungan tempat mereka hidup. Sungai bukan hanya menyediakan sumber daya, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat setempat.
Nilai inilah yang membuat Menuba tetap memiliki arti penting meskipun kehidupan terus berubah. Masyarakat mempertahankan tradisi tersebut sambil menjaga semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap alam.
Di tengah kemarau panjang, makna itu terasa semakin kuat. Menuba menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyatukan harapan menghadapi kondisi lingkungan yang menantang.
Pada akhirnya, Tradisi Menuba Hulu Arut tidak hanya menceritakan cara masyarakat menangkap ikan secara tradisional. Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bagaimana warisan leluhur mampu menjadi perekat sosial sekaligus ruang untuk menjaga hubungan masyarakat dengan alam.
Di tengah ancaman kekeringan dan karhutla, masyarakat Hulu Arut membawa satu harapan bersama melalui tradisi tersebut. Mereka berharap hujan segera mengguyur Kotawaringin Barat sehingga tanah kembali basah, sumber air terjaga, dan risiko kebakaran dapat berkurang.